Prodia Diagnostic Line Bidik Pertumbuhan Dua Digit Lewat Ekspansi Bisnis

Ikhwan Setiawan

Prodia Diagnostic Line Bidik Pertumbuhan Dua Digit Lewat Ekspansi Bisnis

Jakarta – PT Prodia Diagnostic Line Tbk (PRDL) membidik target pertumbuhan pendapatan dan laba bersih dengan angka dua digit sepanjang tahun 2026.

Optimisme ini muncul setelah perusahaan penyedia alat kesehatan diagnostik tersebut sukses mencatatkan kinerja keuangan yang solid pada tahun sebelumnya.

Direktur Utama PT Prodia Diagnostic Line Tbk, Cristina Sandjaja, menyatakan bahwa perusahaan menargetkan pertumbuhan yang konsisten seperti capaian di tahun 2025.

“Harapannya tahun ini kami bisa mempertahankan pertumbuhan yang sama seperti tahun lalu, yakni di level di atas 20%,” ujar Cristina dalam pernyataan resmi yang dirilis, Sabtu (1/8/2026).

Sebagai informasi, PRDL pada tahun 2025 mencatat pendapatan sebesar Rp74,4 miliar atau melonjak 27% secara tahunan (yoy).

Tren positif tersebut berlanjut pada perolehan laba bersih yang tumbuh signifikan sebesar 70,7% yoy menjadi Rp16,9 miliar.

Strategi utama untuk mencapai target tahun ini mencakup perluasan jaringan distribusi, peningkatan kualitas layanan, serta peluncuran produk inovatif.

Saat ini, jangkauan distribusi PRDL telah mencakup 38 provinsi di Indonesia dengan total 70 distributor.

Perusahaan mencatat masih terdapat sekitar 200 kabupaten/kota yang belum tersentuh oleh layanan distribusi mereka.

Selain itu, PRDL menjadwalkan peluncuran sejumlah produk diagnostik baru mulai semester II-2026 untuk memperkuat portofolio perusahaan.

Manajemen menilai prospek industri in vitro diagnostics (IVD) di Indonesia masih sangat menjanjikan ke depannya.

Optimisme ini didorong oleh peningkatan anggaran kesehatan pemerintah serta meluasnya implementasi program deteksi dini penyakit di masyarakat.

Salah satu peluang pasar yang dibidik secara spesifik adalah program Cek Kesehatan Gratis yang dicanangkan oleh pemerintah.

Estimasi internal menunjukkan potensi pasar dari program tersebut mencapai Rp2,2 triliun untuk sembilan jenis pemeriksaan yang sesuai dengan lini produk PRDL.

Perusahaan saat ini telah melayani lebih dari 7.600 pengguna akhir yang terdiri dari puskesmas hingga rumah sakit.

Namun, ruang pertumbuhan masih terbuka luas karena lebih dari 47% fasilitas pelayanan kesehatan belum menjadi pelanggan perseroan.

Untuk mendukung rencana ekspansi tersebut, PRDL memanfaatkan dana hasil penawaran umum perdana saham (IPO) senilai Rp62,75 miliar.

Sebagian dana IPO digunakan untuk melunasi utang perbankan guna memperkuat struktur permodalan perusahaan.

Alokasi belanja modal juga diprioritaskan untuk pembelian mesin, peralatan kalibrasi, hingga pemutakhiran laboratorium biomolekuler.

Selain aspek finansial, Cristina menegaskan bahwa langkah IPO bertujuan untuk meningkatkan standar good corporate governance (GCG).

Respons pelaku pasar terhadap emiten ini terpantau sangat positif sejak resmi melantai di Bursa Efek Indonesia pada 9 Juli 2026.

Hingga penutupan perdagangan Jumat (31/7), harga saham PRDL tercatat berada di level Rp272 per lembar.

Angka tersebut menunjukkan penguatan sekitar 67,9% dibandingkan harga penawaran awal saat perusahaan pertama kali melantai di bursa.

Rekomendasi

Tinggalkan komentar