Daya Beli Lesu, Coca-Cola Fokus Jaga Harga Tetap Terjangkau

Kholida Rahman

Daya Beli Lesu, Coca-Cola Fokus Jaga Harga Tetap Terjangkau

Jakarta – PT Coca-Cola Indonesia tengah merancang serangkaian strategi adaptif guna mempertahankan eksistensi bisnis di tengah kondisi ekonomi yang penuh tantangan.

Perusahaan menyadari adanya tekanan daya beli masyarakat akibat fluktuasi harga yang berdampak langsung pada pola konsumsi domestik.

Presiden Direktur Coca-Cola Indonesia, Eva Lusiana, mengakui bahwa pihaknya merasakan dampak nyata dari situasi ekonomi saat ini.

“Memang kita juga merasakan bahwa ekonomi sekarang juga ada rasanya kontraksi,” ujar Eva dikutip dari pernyataan resminya di Jakarta Selatan, Jumat (31/7/2026).

Dia menambahkan bahwa tekanan tersebut bersumber dari kenaikan harga komoditas dan kondisi ekonomi makro yang sedang tidak stabil.

Menghadapi situasi ini, perusahaan menetapkan prioritas utama untuk menjaga agar produk tetap terjangkau oleh masyarakat.

Tantangan terbesar bagi manajemen saat ini adalah memastikan bahwa produk Coca-Cola tetap relevan dengan kebutuhan sekaligus kemampuan belanja konsumen.

“Ada beberapa tekanan yang datang dari kenaikan harga, ada beberapa tekanan juga yang datang dari kondisi ekonomi sekarang,” ungkap Eva.

Menurut Eva, konsumen Indonesia saat ini memiliki preferensi yang dinamis dengan beragam pilihan produk di pasar.

Oleh karena itu, perusahaan dituntut untuk lebih cermat dalam membaca pergerakan pasar agar tidak kehilangan pangsa pasar.

“Yang harus kami lakukan sebagai bisnis adalah kita harus berhati-hati bagaimana konsumen ini masih tetap relevan dengan produk kita dan produk kita juga masih ada dalam daya belinya mereka,” jelas Eva.

Selain aspek harga, perusahaan juga berkomitmen menjaga kedekatan emosional dengan para pelanggan setianya.

Strategi ini dilakukan agar konsumen tidak merasa teralienasi dari merek di tengah kondisi ekonomi yang sulit.

Eva menegaskan bahwa perusahaan harus terus mendengarkan aspirasi konsumen sebagai bagian dari strategi pemasaran yang berkelanjutan.

“Jangan sampai konsumen kita merasa kita jauh dan tidak mendengarkan. Justru ini momen yang sangat tepat sekali,” tegasnya.

Selain itu, Coca-Cola Indonesia juga terus memadukan perubahan gaya hidup konsumen ke dalam berbagai bentuk aktivasi merek.

Langkah ini dianggap krusial untuk mempertahankan posisi kompetitif di tengah banyaknya alternatif minuman yang tersedia bagi masyarakat.

Strategi tersebut menjadi bagian dari upaya jangka panjang perusahaan menjelang perayaan satu abad kehadirannya di Indonesia.

Saat ini, Coca-Cola telah beroperasi di Indonesia selama 99 tahun dan terus berupaya menjaga relevansi produknya.

Kemampuan beradaptasi dengan perubahan pola konsumsi dinilai menjadi kunci utama ketahanan bisnis perusahaan selama hampir satu abad.

Dengan memperhatikan daya beli dan preferensi konsumen, perusahaan optimistis dapat melewati masa kontraksi ekonomi dengan tetap menjaga loyalitas pelanggan di tanah air.

Rekomendasi

Tinggalkan komentar