Pendapatan Indofood (INDF) Tembus Rp 65,53 Triliun di Semester I-2026

Rayhan Akhari

Pendapatan Indofood (INDF) Tembus Rp 65,53 Triliun di Semester I-2026

Jakarta – PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) mencatatkan pertumbuhan penjualan neto konsolidasi sebesar 9% menjadi Rp65,53 triliun pada semester pertama tahun 2026.

Realisasi tersebut meningkat dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya, yakni sebesar Rp59,84 triliun.

Peningkatan performa operasional perusahaan juga terlihat dari laba usaha yang tumbuh 14% menjadi Rp13,29 triliun.

Angka tersebut naik dari capaian pada semester pertama tahun lalu yang berada di posisi Rp11,69 triliun.

Marjin laba usaha perusahaan tetap terjaga di level yang sehat, yakni sekitar 20,3 persen.

Namun, laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk justru mengalami kontraksi sebesar 19%.

Laba bersih perusahaan tercatat sebesar Rp4,72 triliun, turun dari Rp5,84 triliun pada semester pertama 2025.

Manajemen menyebutkan bahwa penurunan laba bersih tersebut disebabkan oleh tingginya rugi selisih kurs yang belum terealisasi.

Kerugian kurs ini muncul dari kegiatan pendanaan seiring dengan tren pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap mata uang asing.

Meski demikian, core profit yang menjadi indikator kinerja operasional perusahaan tetap menunjukkan tren positif.

Core profit Indofood tercatat naik 7% menjadi Rp6,18 triliun dari sebelumnya Rp5,78 triliun pada periode yang sama tahun lalu.

Direktur Utama dan Chief Executive Officer Indofood, Anthoni Salim, memberikan tanggapannya terkait hasil keuangan ini.

Dia menilai bahwa perusahaan mampu mencetak kinerja yang solid di tengah kondisi ketidakpastian global yang masih terus berlangsung.

“Kami tetap fokus mendorong pertumbuhan yang berkelanjutan, menjaga keseimbangan antara pangsa pasar dan tingkat profitabilitas, serta mempertahankan posisi neraca yang sehat,” ujar Anthoni dalam keterangan resmi, Jumat (31/7/2026).

Dari sisi posisi keuangan, total aset perusahaan per semester I-2026 tercatat mencapai Rp231,24 triliun.

Angka ini memperlihatkan peningkatan dibandingkan posisi aset pada akhir tahun 2025 yang sebesar Rp217,98 triliun.

Struktur permodalan perusahaan mencatat total liabilitas sebesar Rp106 triliun.

Sementara itu, total ekuitas perusahaan pada periode yang sama tercatat sebesar Rp124,71 triliun.

Posisi kas dan setara kas perseroan juga terpantau menguat secara signifikan.

Total saldo kas dan setara kas pada akhir periode berjalan mencapai Rp54,12 triliun.

Jumlah kas tersebut meningkat dibandingkan posisi sebelumnya yang berada di angka Rp42,01 triliun.

Pertumbuhan penjualan neto yang stabil menunjukkan ketangguhan bisnis inti perusahaan di tengah tantangan ekonomi makro.

Fokus manajemen kini tertuju pada efisiensi operasional untuk mengimbangi tekanan dari fluktuasi nilai tukar.

Kesehatan neraca keuangan yang terjaga menjadi modal utama bagi perseroan dalam menavigasi sisa tahun 2026.

Rekomendasi

Tinggalkan komentar