Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri perdagangan akhir pekan lalu, Jumat (31/7/2026), dengan catatan impresif di level 6.236,13.
Penguatan sebesar 0,80% tersebut menggenapi performa positif indeks selama sepekan terakhir dengan total kenaikan 0,81%.
Tren kenaikan ini didorong oleh lonjakan volume pembelian yang mencerminkan optimisme investor di tengah dinamika pasar global maupun domestik.
Head of Retail Research MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, menyatakan bahwa pergerakan indeks sepanjang pekan lalu dipengaruhi oleh kombinasi faktor internal dan eksternal.
“Sepanjang pekan ini, IHSG ditutup menguat dan disertai dengan munculnya volume pembelian,” ujarnya, Jumat (31/7/2026).
Menurut Herditya, keputusan bank sentral Amerika Serikat (The Fed) yang menahan suku bunga di kisaran 3,50%-3,75% menjadi salah satu katalis utama pasar.
Sentimen tersebut didukung oleh data ekonomi Amerika Serikat, yakni pertumbuhan GDP yang di bawah ekspektasi serta melandainya inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE).
“Investor juga mencermati kondisi geopolitik Timur Tengah yang cenderung mereda, sehingga mendorong penurunan harga minyak mentah dunia dan meredakan kekhawatiran inflasi global,” jelasnya.
Dari sisi domestik, pasar merespons positif rilis laporan keuangan emiten untuk kuartal II-2026.
Selain itu, volatilitas nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pasca-mundurnya Gubernur Bank Indonesia turut menjadi sorotan pelaku pasar.
Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas, Alrich Paskalis Tambolang, mencatat bahwa performa IHSG sepanjang Juli 2026 tergolong solid.
“IHSG ditutup menguat di level 6.236,13 pada hari ini, sehingga secara bulanan IHSG naik 10,51%,” ungkap Alrich.
Ia menambahkan bahwa kenaikan ini terjadi merata di seluruh sektor, dengan sektor teknologi menjadi kontributor pertumbuhan tertinggi.
Di sisi lain, nilai tukar rupiah terpantau menguat 0,49% ke level Rp18.022 per dolar AS seiring pelemahan indeks dolar Amerika Serikat.
Menatap pekan depan, Alrich memprediksi tren positif IHSG masih berpeluang berlanjut.
“IHSG diperkirakan melanjutkan penguatan dengan menguji level 6.300 hingga 6.380,” jelasnya.
Herditya turut mengamini potensi penguatan tersebut, meskipun ia mengingatkan bahwa ruang kenaikan kemungkinan terbatas.
“Kami perkirakan IHSG masih berpeluang menguat dengan kecenderungan terbatas, dengan support di 5.966 dan resistance di 6.377,” tambahnya.
Fokus investor pekan depan akan tertuju pada rilis data ekonomi domestik seperti neraca perdagangan, inflasi, dan cadangan devisa.
Sementara dari sisi eksternal, pasar menantikan data Purchasing Managers’ Index (PMI) China dan data ketenagakerjaan Amerika Serikat, termasuk non-farm payroll (NFP).
Kebijakan moneter Bank Indonesia tetap menjadi perhatian utama untuk memitigasi risiko fluktuasi rupiah.
Sebagai strategi perdagangan, pelaku pasar disarankan mencermati beberapa saham seperti PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) di rentang Rp595-Rp605.
Selain itu, PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) di kisaran Rp1.455-Rp1.610 dan PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) pada rentang Rp540-Rp580 dinilai layak untuk dipantau.




















