Harga Emas Diproyeksi Bertahan Bullish, Cermati Level Kunci Berikut

persen

Harga Emas Diproyeksi Bertahan Bullish, Cermati Level Kunci Berikut

Jakarta – Harga emas dunia diprediksi masih memiliki ruang untuk melanjutkan penguatan secara moderat hingga akhir tahun 2026.

Meskipun saat ini pasar sedang mengalami fase koreksi dari level tertingginya, fundamental logam mulia dinilai masih cukup kuat.

Data Trading Economics per Jumat (31/7/2026) mencatat harga emas berada di posisi US$ 4.042,97 per ons troi.

Angka tersebut mencerminkan koreksi harian sebesar 1,47 persen atau turun US$ 60,43.

Secara mingguan, komoditas ini melemah 0,22 persen dan secara year-to-date (YtD) terkoreksi 6,41 persen.

Namun, jika dilihat secara tahunan (year-on-year), harga emas masih mencatatkan lonjakan signifikan sebesar 20,22 persen.

Analis Komoditas sekaligus Founder Traderindo.com, Wahyu Laksono, menyatakan bahwa emas saat ini berada dalam fase konsolidasi dengan kecenderungan menguat.

Ia menyebut pola ini sebagai range-bound with bullish bias yang akan berlangsung hingga penghujung tahun.

Menurut Wahyu, secara teknikal, pergerakan harga emas mingguan terpantau di kisaran US$ 4.050 hingga US$ 4.097 per ons troi.

Indikator teknikal seperti Relative Strength Index (RSI) yang berada di level 38,44 mengisyaratkan bahwa momentum pelemahan jangka pendek mulai jenuh.

Wahyu menekankan pentingnya area US$ 3.850 hingga US$ 4.000 per ons troi sebagai zona support krusial.

“Selama harga bertahan di atas area ini, tren bullish jangka panjang masih terkonfirmasi utuh,” ujar Wahyu dikutip dari keterangan resminya, Jumat (31/7/2026).

Ketahanan harga emas ke depan akan sangat bergantung pada arah kebijakan moneter bank sentral Amerika Serikat, The Fed.

Selain itu, pergerakan imbal hasil obligasi pemerintah AS dan Indeks Dolar AS (DXY) menjadi penentu utama.

Jika The Fed kembali bersikap hawkish, tekanan terhadap harga emas diperkirakan akan meningkat.

Sebaliknya, rencana penurunan suku bunga di masa depan diprediksi menjadi katalis positif bagi harga emas.

Faktor eksternal lainnya adalah ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang mendorong kenaikan harga energi.

Situasi tersebut memicu kekhawatiran inflasi global yang secara otomatis meningkatkan daya tarik emas sebagai aset lindung nilai (safe haven).

Aksi akumulasi emas oleh bank sentral global, terutama dari China dan negara berkembang, juga memperkuat posisi harga.

Wahyu menyarankan investor untuk menerapkan strategi Dollar-Cost Averaging (DCA) agar lebih aman dalam mengelola portofolio.

Strategi ini disarankan terutama saat harga berada di rentang US$ 3.850 hingga US$ 4.050 per ons troi.

Porsi investasi emas idealnya dipertahankan pada kisaran 5 persen hingga 15 persen dari total portofolio.

Investor juga diminta melakukan rebalancing secara berkala dengan merealisasikan keuntungan saat harga melonjak atau menambah posisi saat terjadi koreksi.

Dalam skenario dasar, harga emas diproyeksikan bergerak di kisaran US$ 3.900 hingga US$ 4.500 per ons troi.

Jika terjadi eskalasi geopolitik yang tajam, harga emas berpotensi menembus rentang US$ 4.500 hingga US$ 5.000 per ons troi.

Risiko koreksi ke level US$ 3.500 hingga US$ 3.850 per ons troi tetap terbuka jika bank sentral AS terpaksa mempertahankan kebijakan ketat akibat lonjakan inflasi yang tak terduga.

Rekomendasi

Tinggalkan komentar