Jakarta – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) masih berada di bawah tekanan signifikan sepanjang pekan terakhir, dengan tren pelemahan yang mencerminkan tingginya ketidakpastian ekonomi global dan domestik.
Data perdagangan mencatat rupiah sempat mengalami penguatan harian sebesar 0,49% ke level Rp 18.022 per dolar AS pada penutupan Jumat (31/7/2026).
Namun, secara akumulasi mingguan, mata uang Garuda masih terdepresiasi sebesar 0,32% dibandingkan posisi pada Jumat (24/7/2026) yang berada di angka Rp 17.963 per dolar AS.
Kondisi serupa terlihat pada kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) yang mencatatkan pelemahan mingguan sebesar 0,47% ke level Rp 18.058 per dolar AS.
Analis Mata Uang & Komoditas, Ibrahim Assuaibi, menyebutkan bahwa gejolak geopolitik di Timur Tengah menjadi pemicu utama fluktuasi pasar saat ini.
Eskalasi konflik antara Iran dan pasukan AS di kawasan tersebut kembali meningkatkan kekhawatiran investor terhadap stabilitas keamanan global.
“Meskipun Komando Pusat AS menyatakan bahwa seluruh rudal berhasil dicegat, serangan ini menandai eskalasi baru setelah beberapa hari situasi relatif tenang, sekaligus memperkuat kekhawatiran bahwa jeda diplomatik yang sempat terjadi bisa segera buyar,” ujar Ibrahim, Jumat (31/7/2026).
Selain faktor geopolitik, pasar juga merespons keputusan Federal Reserve yang mempertahankan suku bunga dana federal di kisaran 3,50% hingga 3,75%.
Keputusan tersebut sempat memicu perdebatan internal di antara anggota FOMC, dengan tiga anggota di antaranya secara terbuka mendukung kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin untuk meredam inflasi.
Di dalam negeri, ketidakpastian semakin diperdalam oleh dinamika transisi kepemimpinan di Bank Indonesia pasca pengunduran diri Perry Warjiyo dari posisi Gubernur BI.
Ibrahim menambahkan bahwa pelaku pasar saat ini sedang memantau dengan cermat suksesi di bank sentral, beban fiskal di daerah, serta hambatan pada sektor ekspor mineral.
“Pasar juga fokus terhadap ketidakpastian mengenai suksesi pimpinan bank sentral setelah Perry Warjito mengundurkan diri, tekanan fiskal daerah, dan hambatan ekspor mineral,” terang Ibrahim.
Menanggapi kondisi tersebut, Research and Development ICDX, Muhammad Amru Syifa, memproyeksikan bahwa mata uang dolar AS masih akan menjadi pilihan utama investor sebagai aset safe haven.
Ia menyoroti bahwa ketegangan di Timur Tengah berpotensi memicu lonjakan harga minyak dunia yang nantinya akan menekan nilai tukar negara berkembang.
“Di sisi lain, komitmen Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar dan mengendalikan inflasi diharapkan dapat membantu meredam tekanan terhadap rupiah sehingga volatilitas tetap terkendali,” ujar Amru.
Bank Indonesia sendiri telah menegaskan komitmennya untuk mempertahankan kebijakan moneter yang fokus pada stabilitas, dengan tetap menjaga BI-Rate di level 5,75%.
Keberlangsungan arus modal asing ke instrumen keuangan domestik kini menjadi kunci utama untuk memperkuat cadangan devisa dan menopang rupiah di tengah tekanan eksternal.
Para pelaku pasar diprediksi akan terus mencermati kebijakan suku bunga AS yang kemungkinan akan bertahan tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama.
“Kombinasi faktor-faktor tersebut berpotensi memperkuat dolar AS, mendorong aliran dana ke aset berbasis dolar, dan memberikan tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah,” jelas Amru.
Secara teknikal, rupiah diprediksi akan bergerak di kisaran Rp 17.920 hingga Rp 18.300 per dolar AS dalam perdagangan sepekan ke depan.
























