IHSG Melesat 10,51% Sepanjang Juli 2026, Saatnya Investor Lakukan Profit Taking?

Kholida Rahman

IHSG Melesat 10,51% Sepanjang Juli 2026, Saatnya Investor Lakukan Profit Taking?

Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatatkan kinerja impresif sepanjang Juli 2026 dengan lonjakan sebesar 10,51 persen yang membawa indeks ke level 6.236 pada penutupan perdagangan 31 Juli.

Penguatan signifikan ini menjadi angin segar bagi pelaku pasar setelah IHSG mengalami tekanan berat selama enam bulan pertama tahun 2026.

Capaian tersebut tercatat sebagai performa bulanan terbaik dalam setidaknya satu dekade terakhir.

Sebelumnya, IHSG sempat menyentuh titik terendah di level 5.692 pada awal Juni lalu.

Posisi tersebut merupakan koreksi tajam sekitar 36 persen dari rekor tertinggi sepanjang masa di level 9.134 yang sempat dicapai pada 20 Januari 2026.

Kondisi valuasi saham yang sempat terdiskon cukup dalam memicu aksi akumulasi oleh investor di tengah mulai meredanya tekanan eksternal.

Meski demikian, para investor kini diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi koreksi pasar dalam waktu dekat.

Direktur Infovesta Utama, Wawan Hendrayana, menyarankan investor untuk mulai merealisasikan keuntungan atau profit taking secara terencana.

Profit taking yang dilakukan secara terencana bukan berarti kehilangan keyakinan terhadap pasar, melainkan bentuk disiplin dalam mengelola risiko di tengah potensi volatilitas yang masih tinggi,” ujar Wawan dikutip dari laman *Harian KONTAN*, Sabtu (1/8/2026).

Langkah tersebut dinilai krusial untuk menjaga posisi keuangan investor jika pasar mengalami pelemahan pada periode Agustus hingga September.

Secara historis, pola pergerakan pasar saham Indonesia memang cenderung menunjukkan perlambatan momentum setelah reli di bulan Juli.

Data selama sepuluh tahun terakhir menunjukkan bahwa bulan September sering kali menjadi periode yang menantang bagi IHSG.

Probabilitas kenaikan IHSG pada September tercatat hanya sebesar 30 persen dengan rata-rata imbal hasil negatif 0,88 persen.

Bahkan, pada tahun 2020, pasar saham domestik pernah mengalami koreksi terdalam hingga 7,03 persen di bulan tersebut.

Fenomena ini sering dikaitkan dengan pola *September effect* yang juga terjadi di berbagai bursa saham global.

Selain faktor musiman, pasar juga masih dibayangi oleh sentimen kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat, The Fed, serta tensi geopolitik.

Arus modal asing juga menjadi sorotan setelah investor asing mencatatkan jual bersih hampir Rp 80 triliun hingga pertengahan 2026.

Tingkat volatilitas pasar yang masih tinggi menuntut penyesuaian strategi portofolio yang matang bagi setiap profil risiko investor.

Investor agresif disarankan mengamankan 25 hingga 30 persen keuntungan, sementara investor konservatif dianjurkan mengalihkan dana ke instrumen pasar uang.

Meski mewaspadai risiko jangka pendek, prospek jangka menengah pasar saham Indonesia dinilai masih tetap positif.

Valuasi pasar yang saat ini masih di bawah rata-rata historis lima tahun menjadi peluang bagi investor untuk kembali mengakumulasi saham berfundamental kuat saat terjadi koreksi.

Momentum tersebut dapat dimanfaatkan kembali menjelang akhir tahun, mengingat Desember secara historis merupakan bulan dengan performa positif melalui fenomena *window dressing*.

Rekomendasi

Tinggalkan komentar