Jakarta – Sektor konsumer di pasar modal Indonesia diproyeksikan tetap mencatatkan kinerja positif hingga penghujung tahun 2026.
Optimisme ini muncul meskipun industri saat ini tengah menghadapi tantangan makroekonomi berupa fluktuasi nilai tukar rupiah dan tekanan terhadap daya beli masyarakat.
Sejumlah analis menilai bahwa emiten unggulan di sektor ini masih memegang fundamental yang kuat berkat strategi bisnis yang terukur.
Para pelaku pasar kini mulai meninjau kembali portofolio mereka menjelang pembukaan perdagangan hari Senin, 3 Agustus 2026.
PT Mayora Indah Tbk (MYOR) menjadi salah satu saham yang disorot dengan rekomendasi buy oleh analis Sucor Sekuritas, Hansen Christian Seng.
Hansen menetapkan target harga MYOR di angka Rp 2.050 per saham.
Menurut Hansen, manajemen perusahaan memilih untuk mengalokasikan arus kas bebas guna mempercepat pelunasan utang alih-alih melakukan belanja modal secara agresif.
Strategi deleveraging ini diproyeksikan akan menopang pertumbuhan laba bersih perseroan.
“Beban bunga pada 2026 diproyeksikan turun menjadi sekitar Rp 460 miliar atau menyusut 23% dibandingkan tahun sebelumnya,” ujar Hansen dikutip dari laporan riset Sucor Sekuritas, Minggu (2/8/2026).
Selain itu, posisi MYOR yang mengandalkan ekspor sebesar 40% dalam denominasi dolar AS memberikan proteksi alami terhadap pelemahan rupiah.
Di sisi lain, PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) mendapatkan rekomendasi buy dari analis Samuel Sekuritas Indonesia, Jonathan Guyadi, dengan target harga Rp 2.100 per saham.
Transformasi bisnis yang berfokus pada segmen Home & Personal Care (HPC) menjadi katalis utama bagi UNVR.
Langkah ini selaras dengan rencana global induk usaha untuk menggabungkan bisnis makanan dengan McCormick pada pertengahan 2027 mendatang.
Transformasi tersebut membuka peluang divestasi pada lini bisnis makanan yang selama ini menyumbang sekitar 25% dari total penjualan segmen Foods & Refreshment.
Sementara itu, PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) masih mempertahankan posisi overweight dengan target harga Rp 7.900 per saham menurut analis JP Morgan Sekuritas Indonesia, Benny Kurniawan.
Kinerja ICBP dinilai akan ditopang oleh stabilitas permintaan mi instan domestik serta ekspansi pasar di Timur Tengah, Asia, dan Afrika.
Meski demikian, volatilitas harga bahan baku seperti minyak sawit mentah (CPO) tetap menjadi variabel risiko yang patut diwaspadai.
Terakhir, PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) mendapatkan rekomendasi add dengan target harga Rp 1.650 per saham dari analis CGS International Sekuritas Indonesia, Baruna Arkasatyo.
Rekomendasi ini menyusul aksi korporasi Mandatory Tender Offer (MTO) yang telah diselesaikan pada 29 Juli 2026 lalu.
Menurut Baruna, langkah tersebut merupakan perpindahan domisili kepemilikan ke luar negeri yang membuka ruang aksi korporasi lanjutan.
“Potensi kenaikan harga saham MAPI diperkirakan terbatas dalam enam bulan ke depan, namun memiliki peluang penguatan moderat dalam jangka waktu 12 bulan,” kata Baruna dikutip dari catatan riset CGS International, Minggu (2/8/2026).
Para investor tetap disarankan untuk memperhatikan risiko pelemahan daya beli konsumen menengah atas yang berpotensi menekan pertumbuhan penjualan di toko yang sama (same store sales growth).






















