Harga Minyak Mentah Kembali Naik Akibat Ancaman di Selat Hormuz

Kholida Rahman

Harga Minyak Mentah Kembali Naik Akibat Ancaman di Selat Hormuz

Jakarta – Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) mencatatkan kenaikan signifikan pada perdagangan Jumat (7/8/2026).

Komoditas energi ini diperdagangkan pada level US$ 77,95 per barel, atau menguat 0,66 persen dibandingkan penutupan hari sebelumnya.

Lonjakan harga tersebut dipicu oleh eskalasi ketegangan geopolitik yang kembali memanas di kawasan Selat Hormuz.

Pasar bereaksi negatif terhadap laporan adanya serangan dari Iran terhadap target yang disebut sebagai pihak bermusuhan di sekitar wilayah tersebut.

Insiden tersebut terjadi menyusul peristiwa ledakan yang dilaporkan muncul di dekat Pulau Qeshm.

Situasi di jalur pelayaran vital ini kian tidak menentu seiring dengan langkah agresif yang diambil oleh Teheran.

Research & Development Trijaya Pratama Futures, Alwi Assegaf mengungkapkan bahwa kenaikan harga minyak saat ini merupakan cerminan dari meningkatnya premi risiko pasar.

Ketegangan geopolitik ini diperparah oleh munculnya rancangan kesepakatan antara Iran dan Oman terkait regulasi di Selat Hormuz.

Dalam dokumen rancangan tersebut, Teheran berupaya memberlakukan larangan lintas bagi kapal-kapal asal Amerika Serikat dan Israel.

Selain itu, negara-negara yang dianggap bermusuhan diwajibkan membayar kompensasi finansial sebelum mendapatkan izin pelayaran.

“Ketegangan ini semakin diperumit oleh rancangan kesepakatan Iran-Oman yang mengatur jalur pelayaran tersebut, di mana Teheran berupaya melarang kapal-kapal Amerika Serikat dan Israel melintasi Hormuz, serta mewajibkan negara-negara yang dianggap bermusuhan membayar kompensasi sebelum diberikan izin lintas,” jelas Alwi dalam risetnya, Jumat (7/8/2026).

Pemerintah Iran bahkan mengusulkan penerapan denda sebesar 20 persen dari nilai kargo bagi kapal yang melanggar ketentuan tersebut.

Teheran menegaskan bahwa pembukaan penuh jalur tersebut bergantung pada pencabutan blokade maritim yang dilakukan oleh pihak Amerika Serikat.

Saat ini, rancangan kebijakan tersebut sedang dalam pembahasan intensif di parlemen Iran.

Regulasi ini dinilai pasar jauh lebih ketat daripada ekspektasi awal para pelaku industri energi global.

Pengetatan syarat pelayaran komersial ini secara langsung menekan pasokan dan memicu kekhawatiran terhadap kelancaran distribusi minyak dunia.

Ketidakpastian pasokan akibat hambatan di Selat Hormuz menjadi katalis utama penguatan harga minyak mentah saat ini.

Secara teknikal, pergerakan harga minyak mentah WTI dalam jangka pendek diperkirakan akan berada dalam rentang tertentu.

Alwi memproyeksikan level support harga berada di kisaran US$ 76,62 per barel.

Sementara itu, level resistance untuk komoditas ini diprediksi berada di angka US$ 79,54 per barel.

Para investor dan pelaku pasar terus memantau perkembangan terkini di Selat Hormuz sebagai faktor penentu arah harga minyak dalam beberapa hari ke depan.

Rekomendasi

Tinggalkan komentar