Jakarta – PT Freeport Indonesia (PTFI) bersiap mengoperasikan kembali Smelter Manyar di Gresik, Jawa Timur, pada September 2026 mendatang.
Langkah ini diambil setelah fasilitas pengolahan tembaga tersebut sempat terhenti total sejak Desember 2025 akibat kendala pasokan konsentrat.
Presiden Direktur PT Freeport Indonesia, Tony Wenas, menegaskan bahwa jadwal produksi kembali ini telah sesuai dengan rencana perusahaan.
“Smelter nanti mulai bulan September sudah mulai akan produksi lagi. Smelter Manyar akan mulai produksi copper (tembaga) katoda. Sesuai jadwal,” ujar Tony di Jakarta, Jumat (7/8).
Saat ini, perusahaan tengah mengumpulkan pasokan konsentrat tembaga yang dikirim secara bertahap dari Papua ke lokasi smelter.
Stok bahan baku tersebut harus mencapai volume tertentu sebelum dapat diproses ke dalam tungku pembakaran.
Tony menjelaskan bahwa operasional smelter tidak akan langsung digenjot ke kapasitas maksimal.
“Bertahap, enggak bisa langsung 100 persen. Masih di bawah 30 persen,” ungkapnya mengenai rencana operasional awal.
Pihaknya menargetkan peningkatan kapasitas produksi secara berkala hingga mencapai 100 persen pada akhir 2027.
Proyek strategis senilai Rp58 triliun ini sempat mengalami serangkaian hambatan operasional dalam setahun terakhir.
Fasilitas tersebut sempat terhenti akibat kebakaran pada Oktober 2024 dan kembali terganggu oleh longsor di tambang Grasberg Block Cave pada September 2025.
Smelter Manyar sendiri dirancang sebagai salah satu proyek hilirisasi mineral terbesar di Indonesia dengan kapasitas pengolahan 1,7 juta ton konsentrat per tahun.
Selain memproduksi katoda tembaga, fasilitas ini juga dilengkapi unit pemurnian logam berharga yang mampu mengekstraksi emas dan perak.























