Jakarta – PT Mitra Komunikasi Nusantara Tbk (MKNT) secara resmi mengumumkan rencana aksi korporasi besar berupa penambahan modal tanpa hak memesan efek terlebih dahulu atau private placement.
Langkah strategis ini bernilai total Rp1,02 triliun dengan menerbitkan 1,02 triliun saham baru seri B yang memiliki nilai nominal Rp1 per lembar saham.
Aksi ini diambil untuk memperbaiki struktur permodalan perusahaan yang saat ini berada dalam kondisi tertekan.
Direktur Utama MKNT, Jefri Junaedi, menegaskan bahwa langkah ini sangat krusial bagi keberlangsungan bisnis perseroan ke depan.
“Pelaksanaan PMTHMETD ini diharapkan dapat memperbaiki struktur permodalan perseroan serta mendukung keberlangsungan usaha,” ungkap Jefri sebagaimana dikutip dari keterbukaan informasi, Senin (10/8/2026).
Selain untuk memperbaiki neraca keuangan, dana yang dihimpun akan dialokasikan untuk mengakuisisi dua perusahaan baru.
Perseroan berencana mengambil alih 99,99% saham PT Citra Baru Steel (CBS) dengan nilai transaksi mencapai Rp668 miliar.
Selain itu, MKNT juga akan mengakuisisi 99,99% saham PT Radja Udang Malingping (RUM) senilai Rp156,49 miliar.
Akuisisi tersebut menjadi sinyal kuat transformasi bisnis perusahaan yang selama ini berfokus pada distribusi produk telekomunikasi.
Ke depannya, MKNT akan merambah sektor industri baja dan akuakultur sebagai bagian dari strategi diversifikasi usaha.
Perubahan arah bisnis ini juga akan disertai dengan penggantian nama perusahaan menjadi PT Remitra Global International Tbk.
Langkah ini diambil untuk mencerminkan cakupan operasional perusahaan yang kini jauh lebih luas dibandingkan sebelumnya.
Kondisi keuangan perusahaan saat ini memang memerlukan pembenahan serius setelah mencatatkan ekuitas negatif sebesar Rp9,13 miliar per 31 Maret 2026.
Perseroan juga menghadapi tantangan modal kerja bersih negatif yang mencapai Rp831,92 miliar.
Rasio liabilitas terhadap total aset yang menyentuh angka 101,11% menunjukkan beban utang yang melampaui batas ideal.
Melalui skema private placement ini, MKNT akan melakukan konversi utang serta menerima tambahan modal tunai dari investor.
Terdapat lima investor independen yang telah menyatakan komitmen untuk menyetor modal tunai sebesar Rp200 miliar.
Perubahan struktur pengendalian juga akan terjadi seiring dengan masuknya PT Headwell Bintang Energi Hijau (HBEH).
HBEH diproyeksikan menjadi pengendali baru dengan penguasaan sekitar 64,85% saham di MKNT pascaaksi korporasi.
Seluruh rencana strategis ini akan dimintakan persetujuan kepada para pemegang saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB).
Pertemuan tersebut dijadwalkan berlangsung pada 24 Agustus 2026 mendatang.






















