Jakarta – Bank Indonesia (BI) melakukan pergeseran strategi intervensi pasar dengan mengurangi porsi intervensi di pasar spot menjadi hanya 30% dari total keseluruhan.
Langkah ini diambil untuk menjaga efisiensi cadangan devisa negara sekaligus mengoptimalkan stabilitas nilai tukar rupiah.
Gubernur BI, Destry Damayanti, menjelaskan bahwa ketergantungan pada pasar spot dinilai terlalu menguras cadangan devisa, sehingga bauran instrumen lain kini lebih diutamakan.
Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, menilai perubahan kebijakan ini membawa dampak signifikan terhadap dinamika aset keuangan domestik, khususnya pada Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
Menurut Josua, stabilitas nilai tukar yang terjaga melalui instrumen seperti Non-Deliverable Forward (NDF) dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) akan memberikan sentimen positif bagi pasar SBN.
“Investor asing pada akhirnya melihat keuntungan SBN setelah memperhitungkan tiga hal sekaligus, yaitu imbal hasil rupiah, perubahan kurs dan biaya lindung nilai,” ujar Josua, Rabu (30/9/2026).
Data mencatat aliran dana asing ke pasar SBN secara kumulatif telah mencapai sekitar Rp 27,5 triliun sepanjang tahun 2026.
Meskipun demikian, yield Surat Utang Negara (SUN) tenor 10 tahun yang berada di level 7,2% masih menghadapi tantangan dari tingginya yield obligasi Amerika Serikat (US Treasury).
Di sisi lain, SRBI tetap menjadi instrumen primadona bagi investor asing dengan total aliran masuk mencapai Rp 165,6 triliun sepanjang tahun 2026.
Angka tersebut jauh melampaui aliran dana yang masuk ke sektor SBN dalam periode yang sama.
Kendati demikian, BI mulai melakukan penyesuaian dengan menurunkan jumlah SRBI yang beredar dari Rp 1.097 triliun pada Juli menjadi Rp 1.028 triliun di akhir September.
Langkah pengurangan ini bertujuan untuk mengurangi ketergantungan pada instrumen berbunga tinggi sekaligus meminimalisir persaingan penyerapan dana di pasar domestik.
Josua menambahkan, penurunan jumlah SRBI tersebut merupakan sinyal bahwa otoritas moneter mulai menata ulang instrumen penyerap likuiditasnya.
Mengenai prospek ke depan, ia memperkirakan yield SUN tenor 10 tahun akan bergerak di kisaran 7,15% hingga 7,35% hingga akhir tahun 2026.
Sementara itu, nilai tukar rupiah diproyeksikan berada pada rentang Rp 17.800 hingga Rp 18.000 per dolar Amerika Serikat.
Jika tekanan eksternal terus meningkat, BI memiliki ruang untuk menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate hingga mencapai level 6%.
Investor disarankan untuk melakukan akumulasi SBN secara bertahap daripada mengambil posisi besar dalam satu waktu.
“SRBI tetap defensif dan menarik untuk horizon lebih pendek, sementara SBN memiliki peluang lebih jelas memperoleh manfaat apabila tekanan global mulai mereda,” kata Josua.
Strategi ini dinilai krusial bagi investor dalam menavigasi volatilitas pasar di tengah ketidakpastian ekonomi global yang masih membayangi.






















