Akuisisi Zankore, Indosat (ISAT) Bidik Tambahan Laba Rp 1,4 Triliun

Kholida Rahman

Akuisisi Zankore, Indosat (ISAT) Bidik Tambahan Laba Rp 1,4 Triliun

Jakarta – PT Indosat Tbk (ISAT) tengah bersiap memperluas portofolio bisnisnya melalui pengembangan infrastruktur kecerdasan buatan (AI) berskala besar yang diberi nama Zankore. Proyek strategis ini merupakan hasil kolaborasi lintas sektor antara Indosat, Ooredoo Group, Nokia, dan NVIDIA. Inisiatif tersebut diproyeksikan menjadi pilar utama pengembangan teknologi AI di kawasan Asia-Pasifik dengan Indonesia sebagai basis operasionalnya.

Analis Mirae Asset Sekuritas, Daniel Widjaja, dalam risetnya pada Senin (10/8/2026) mengungkapkan bahwa Zankore dirancang untuk memiliki kapasitas NVIDIA DSX AI Factory hingga 1 gigawatt (GW). Tahap awal pembangunan akan difokuskan pada kapasitas 200 megawatt (MW) yang dijadwalkan mulai beroperasi pada semester pertama tahun 2027. Fasilitas ini akan mengintegrasikan teknologi mutakhir GB300 NVL72 yang diklaim telah mendapatkan kontrak penuh.

Terkait struktur kepemilikan, Ooredoo Group bertindak sebagai pemegang saham pendiri dengan porsi 49 persen dan komitmen investasi sebesar US$ 800 juta. Walaupun porsi saham Indosat belum diumumkan secara resmi, Mirae Asset memprediksi posisi Indosat berada di bawah Ooredoo namun tetap di atas Nokia dan NVIDIA. Proyek ini ditargetkan mampu mencatatkan pendapatan sebesar US$ 13 miliar dengan EBITDA kumulatif mencapai US$ 9 miliar dalam rentang waktu lima tahun ke depan.

“Zankore merupakan tonggak penting bagi perkembangan bisnis terkait AI, baik bagi Indonesia maupun Indosat,” ujar Daniel Widjaja dalam risetnya, Senin (10/8/2026).

Kebutuhan belanja modal atau capital expenditure (capex) untuk tahap pertama proyek ini diperkirakan mencapai US$ 5,9 miliar. Estimasi tersebut mencakup pengadaan sekitar 96.000 GPU serta infrastruktur pendukung lainnya. Dari sisi pendanaan, sekitar 72 persen dari kebutuhan capex tahap pertama direncanakan akan dipenuhi melalui instrumen utang.

Mirae Asset menilai struktur pendanaan ini masih berada dalam batas yang terkendali dengan rasio utang terhadap EBITDA yang moderat. Selain itu, skema pembiayaan proyek ini diperkirakan bersifat non-recourse terhadap neraca keuangan Indosat, sehingga meminimalisir beban kewajiban langsung bagi perusahaan.

Bagi Indosat, Zankore diproyeksikan memberikan kontribusi positif terhadap laba bersih melalui skema equity-accounted income yang diperkirakan mulai terasa pada tahun buku 2028. Analis memprediksi kontribusi tersebut dapat mendongkrak laba bersih perusahaan hingga 19,5 persen pada tahun pertama operasional.

Merespons prospek tersebut, Mirae Asset Sekuritas mempertahankan rekomendasi buy untuk saham ISAT dengan target harga Rp 2.700 per lembar. Namun, para analis tetap menyoroti beberapa risiko potensial yang perlu dicermati. Risiko tersebut meliputi tantangan eksekusi proyek, fluktuasi biaya pendanaan, serta kepastian struktur kontribusi ekuitas yang akan disetor oleh perusahaan. Hingga saat ini, pelaku pasar masih menantikan rincian lebih lanjut mengenai detail operasional Zankore sebelum melakukan penyesuaian proyeksi keuangan yang lebih mendalam.

Rekomendasi

Tinggalkan komentar