Saham Oxala (PIPA) Melesat 40,94% Pasca Umumkan Rencana Akuisisi Bisnis Gas

Rayhan Akhari

Saham Oxala (PIPA) Melesat 40,94% Pasca Umumkan Rencana Akuisisi Bisnis Gas

Jakarta – Saham PT Oxala Energy International Tbk (PIPA) mencatatkan reli penguatan signifikan di pasar modal seiring dengan langkah strategis perusahaan dalam merombak lini bisnis inti.

Pada penutupan perdagangan Jumat (21/8/2026), harga saham emiten yang sebelumnya dikenal sebagai PT Multi Makmur Lemindo Tbk tersebut melonjak 16,99 persen ke level Rp 179 per lembar saham.

Lonjakan harga ini semakin mempertegas tren positif yang telah terbentuk dalam satu pekan terakhir.

Secara akumulatif, saham PIPA telah mencatatkan kenaikan sebesar 40,94 persen hanya dalam kurun waktu lima hari perdagangan.

Sentimen utama yang memicu antusiasme investor di pasar saham saat ini adalah rencana besar perusahaan untuk melakukan akuisisi di sektor pengolahan gas bumi.

Manajemen PIPA saat ini sedang memfinalisasi rencana aksi korporasi tersebut dengan menggandeng PT Morris Capital Indonesia (MCI).

Berdasarkan keterbukaan informasi yang dirilis perusahaan pada Rabu (19/8/2026), kedua belah pihak menargetkan penandatanganan Conditional Share Purchase Agreement (CSPA) dapat rampung pada bulan Agustus 2026.

Sekretaris Perusahaan Oxala Energy International, Haerul Maelani, menegaskan bahwa proses transaksi tersebut masih melalui serangkaian tahapan prosedural sebelum dinyatakan resmi.

“Para pihak menargetkan penyelesaian dan penandatanganan Perjanjian Jual Beli Bersyarat atas rencana akuisisi ini pada bulan Agustus 2026,” tulis Haerul dalam keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia, Rabu (19/8/2026).

Profil perusahaan yang menjadi target akuisisi tersebut diketahui telah memiliki rekam jejak operasional selama 14 tahun.

Awalnya, entitas tersebut berfokus pada perdagangan alat teknik, sektor konstruksi, serta jasa konsultan teknik dengan rata-rata omzet tahunan mencapai Rp 40 miliar.

Transformasi bisnis mulai dilakukan sejak tahun 2025 dengan melakukan ekspansi ke sektor pengolahan minyak dan gas bumi.

Langkah strategis tersebut terbukti membuahkan hasil dengan perolehan kontrak-kontrak penting bernilai total lebih dari US$ 100 juta.

Dari sisi fundamental, perusahaan target memiliki posisi aset yang solid dengan nilai sekitar Rp 476 miliar per 31 Desember 2025.

Nilai aset tersebut diproyeksikan akan terus membengkak hingga mencapai Rp 920 miliar pada penutupan tahun 2026.

Selain itu, perusahaan target memiliki kapasitas potensi pendapatan hingga Rp 250 miliar per tahun dengan margin EBITDA yang sangat atraktif, yakni di kisaran 60 persen.

Hingga saat ini, pihak PIPA masih merahasiakan identitas perusahaan target serta nilai nominal transaksi akuisisi tersebut.

Haerul menjelaskan bahwa langkah ini merupakan pilar utama dalam strategi transformasi perusahaan menuju sektor energi yang lebih menjanjikan.

“Apabila rencana akuisisi terealisasi, kegiatan usaha pengolahan gas bumi Perusahaan Target diharapkan menjadi sumber pertumbuhan baru bagi Perseroan serta memperkuat transformasi bisnis ke sektor energi,” ujar Haerul.

Manajemen optimistis bahwa integrasi bisnis ini akan memberikan dampak positif terhadap kinerja keuangan konsolidasian di masa mendatang.

Hal ini mencakup kontribusi langsung terhadap peningkatan pendapatan serta efisiensi margin EBITDA bagi PIPA.

Kendati demikian, pihak perusahaan menekankan bahwa rencana akuisisi ini belum bersifat mengikat secara hukum.

Pelaksanaan transaksi sepenuhnya masih bergantung pada hasil finalisasi perjanjian definitif serta pemenuhan berbagai syarat pendahuluan yang telah disepakati oleh para pihak terkait.

Rekomendasi

Tinggalkan komentar