Jakarta – Bank Indonesia (BI) menetapkan akselerasi transformasi digital sebagai pilar utama untuk meningkatkan daya saing serta produktivitas sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Indonesia.
Strategi ini difokuskan melalui tiga instrumen utama, yakni e-farming, e-commerce, dan e-financing.
Penerapan e-farming dilakukan dengan mengintegrasikan teknologi pertanian digital guna mengoptimalkan efisiensi produksi.
Sementara itu, sektor e-commerce didorong melalui percepatan onboarding pelaku usaha ke platform digital untuk membuka akses pasar yang lebih luas.
Untuk aspek e-financing, BI mengedepankan penggunaan Sistem Informasi Aplikasi Pencatatan Informasi Keuangan (SIAPIK).
Aplikasi tersebut berfungsi memperkuat tata kelola laporan keuangan UMKM yang nantinya mempermudah akses mereka terhadap pembiayaan perbankan.
Deputi Gubernur BI, Filianingsih Hendarta, menyampaikan optimisme terkait masa depan UMKM tanah air dalam acara Innovation Talk Karya Kreatif Indonesia (KKI) 2026 di JICC, Jakarta, Jumat (21/8/2026).
“Dengan talenta yang berdaya, inovasi yang implementatif, dan ekosistem yang saling menguatkan, kami optimis UMKM Indonesia akan terus bertransformasi, bertumbuh, dan naik kelas,” kata Filianingsih, dikutip dari laman resmi lembaga tersebut, Sabtu (22/8/2026).
Filianingsih menekankan pentingnya penguatan ekosistem inovasi digital bagi keberlangsungan bisnis skala kecil.
Oleh karena itu, bank sentral terus mengembangkan Pusat Inovasi Digital Indonesia (PIDI).
PIDI berfungsi sebagai pusat penghubung antara inovator, talenta digital, pelaku industri, pemerintah, dan mitra strategis lainnya.
Lembaga ini merupakan hasil kolaborasi sinergis antara BI, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan berbagai pihak terkait untuk mempercepat pengembangan solusi digital di sektor riil.
Transformasi digital UMKM juga tercermin dari penetrasi pembayaran nontunai melalui QRIS yang terus meningkat.
Data hingga Juni 2026 menunjukkan jumlah pengguna QRIS telah menyentuh angka 65,77 juta pengguna.
Pada periode yang sama, jumlah merchant yang telah mengadopsi sistem QRIS mencapai 44,86 juta entitas.
Dominasi UMKM dalam ekosistem pembayaran digital ini sangat signifikan dengan persentase mencapai 96,68 persen.
Perluasan penggunaan QRIS dinilai mampu membawa UMKM masuk lebih dalam ke dalam ekonomi digital yang lebih formal.
Dalam rangkaian diskusi KKI 2026, BI turut menghadirkan praktisi dan inovator muda untuk berbagi pengalaman terkait pemanfaatan teknologi.
Narasumber yang hadir meliputi perwakilan dari Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran BI, finalis PIDI, serta pelaku UMKM sektor hortikultura.
Diskusi tersebut menyoroti pentingnya data digital sebagai basis pertimbangan industri perbankan dalam menyalurkan kredit.
Pencatatan keuangan digital yang konsisten menjadi syarat mutlak bagi UMKM untuk mendapatkan kepercayaan dari lembaga keuangan.
BI berkomitmen untuk terus menjaga sinergi dengan berbagai pemangku kepentingan guna mempercepat adaptasi teknologi di tingkat akar rumput.
Langkah ini diproyeksikan dapat memperkuat posisi UMKM sebagai tulang punggung ekonomi nasional yang adaptif dan inovatif.






















