Jakarta – PT Bumi Resources Tbk (BUMI) kini tengah melakukan pergeseran strategis dalam profil bisnisnya dengan mulai merambah sektor mineral di luar batu bara.
Transformasi menjadi perusahaan pertambangan multi-komoditas ini didukung oleh operasional aset mineral yang mulai memberikan kontribusi nyata bagi portofolio perusahaan.
Kinerja operasional pada semester I-2026 menjadi bukti awal keberhasilan strategi diversifikasi tersebut.
Perusahaan mencatatkan pendapatan sebesar US$ 867 juta, yang mencerminkan pertumbuhan tahunan sebesar 27,9%.
Khusus untuk kuartal II-2026, pendapatan yang diraih mencapai US$ 449 juta, naik 7,5% secara kuartalan dan 36,4% secara tahunan.
Sektor batu bara tetap menjadi tulang punggung utama dalam menyumbang pendapatan perusahaan.
Volume penjualan batu bara tercatat mencapai 19,8 juta ton pada periode tersebut.
Angka ini menunjukkan kenaikan sebesar 3,1% secara kuartalan, yang disokong oleh peningkatan volume produksi dari Arutmin dan Kaltim Prima Coal (KPC).
Khusus untuk Arutmin, volume produksinya melonjak signifikan sebesar 29,6% secara tahunan.
Selain faktor volume, kenaikan harga jual rata-rata atau Average Selling Price (ASP) juga menjadi katalis positif.
ASP batu bara pada kuartal II-2026 menyentuh angka US$ 67,1 per ton.
Nilai tersebut meningkat 14,5% secara kuartalan dan 17,5% secara tahunan.
Samuel Sekuritas memproyeksikan bahwa momentum bisnis batu bara BUMI masih memiliki potensi untuk berlanjut di masa depan.
Peluang kenaikan harga akibat fenomena El Niño serta efisiensi penggunaan conveyor belt dinilai mampu mendukung stabilitas produksi dan distribusi.
Di sisi lain, BUMI kini mulai memperluas diversifikasi melalui entitas Wolfram dan Loyal Metals.
“Melalui Wolfram dan Loyal Metals, perusahaan membangun eksposur ke komoditas di luar batu bara sekaligus memperkuat transformasinya menjadi perusahaan tambang multi-komoditas,” tulis Samuel Sekuritas dalam risetnya, Jumat (28/8/2026).
Proyek Wolfram sendiri telah memasuki tahap operasional sejak akhir Mei 2026.
Pemrosesan awal pada stockpile menghasilkan kadar emas sekitar 0,78 gram per ton.
Potensi aset ini diperkirakan akan terus meningkat seiring dengan peningkatan penggunaan bijih tambang dalam proses pengolahan.
Samuel Sekuritas menilai bahwa perubahan pada feed dapat meningkatkan feed grade serta volume produksi secara keseluruhan.
Selain itu, pemulihan kontribusi laba dari Bumi Resources Minerals (BRMS) serta penurunan harga bahan bakar diyakini dapat menekan cash cost.
Kombinasi efisiensi biaya dan diversifikasi aset ini diproyeksikan akan mendukung profitabilitas jangka panjang perusahaan.
Dengan fondasi yang semakin kuat, daya tarik BUMI kini tidak lagi hanya bergantung pada fluktuasi siklus harga batu bara global.
Berangkat dari prospek tersebut, Samuel Sekuritas memberikan rekomendasi beli untuk saham BUMI.
Target harga yang ditetapkan oleh pihak sekuritas tersebut berada di level Rp300 per saham.






















