S&P Dow Jones Ungkap Alasan Saham RI Masih Menarik Investor

Kholida Rahman

S&P Dow Jones Ungkap Alasan Saham RI Masih Menarik Investor

Jakarta – Pasar modal Indonesia saat ini menunjukkan daya tarik investasi yang cukup signifikan di tengah fluktuasi harga saham sepanjang tahun 2026.

Direktur Global Exchange Indices di S&P Dow Jones Indices, Sean Freer, menyatakan bahwa dividend yield atau imbal hasil dividen saham di Indonesia kini telah menembus angka di atas 6 persen.

Capaian tersebut menjadi sinyal positif di tengah tekanan pasar yang sempat dipicu oleh sentimen negatif akibat peninjauan klasifikasi pasar berkembang oleh lembaga indeks internasional.

S&P Dow Jones Indices tercatat telah melakukan peninjauan klasifikasi terhadap pasar Indonesia pada Juli 2026, menyusul langkah serupa yang dilakukan MSCI pada awal Januari 2026.

Freer menegaskan bahwa proses evaluasi tersebut dilakukan oleh tim independen dan tidak mengurangi komitmen lembaganya terhadap pasar Indonesia.

“Hal itu memang menimbulkan sedikit pesimisme investasi di Indonesia. Namun, pendapatan perusahaan masih tetap ada, dan dividend yield sekarang bahkan berada di atas 6 persen,” ujar Freer dalam acara Fortune Indonesia Investment Forum 2026, Sabtu (29/8/2026).

Secara historis, kinerja pasar saham Indonesia sebenarnya memiliki rekam jejak yang cukup impresif dalam jangka panjang.

Berdasarkan data S&P Dow Jones Indices, dalam kurun waktu 26 tahun terakhir, saham Indonesia tercatat berhasil mengungguli indeks pasar maju maupun pasar berkembang sebanyak 15 kali.

Meskipun dalam periode berjalan tahun ini kinerja pasar domestik cenderung berada di bawah indeks global, Freer melihat adanya peluang bagi investor yang menerapkan strategi mean reversion.

Konsep ini meyakini bahwa penurunan kinerja saat ini justru mencerminkan valuasi saham Indonesia yang kini jauh lebih menarik dibandingkan indeks pasar lainnya.

“Bagi mereka yang berinvestasi dan percaya pada konsep mean reversion, penurunan kinerja ini mungkin justru menandakan bahwa saham Indonesia saat ini memiliki penilaian yang secara relatif lebih menarik,” kata Freer.

Optimisme ini turut didukung oleh langkah sejumlah manajer investasi aktif yang mulai mengambil posisi overweight atau menambah porsi kepemilikan saham di pasar Indonesia.

Keputusan overweight tersebut mengindikasikan bahwa para manajer investasi sengaja memperbesar eksposur saham Indonesia dalam portofolio mereka dibandingkan bobot acuan (benchmark) yang ada.

Di segmen saham Asia, perusahaan seperti First State, Invesco, M&G, hingga AllianceBernstein tercatat menambah porsi saham Indonesia antara 2 hingga 4 persen di atas bobot acuan.

Sementara itu, pada segmen saham ASEAN, manajer investasi seperti Fidelity, Barings, Manulife, dan First State bahkan berani menambah porsi hingga di atas 10 persen.

Estimasi menunjukkan bahwa lebih dari 800 juta dolar AS telah ditempatkan pada efek Indonesia oleh daftar manajer investasi tersebut, sebuah angka yang diprediksi akan terus bertambah.

Meski demikian, Indonesia tetap dihadapkan pada persaingan ketat dalam menarik arus modal global di tengah standar investasi yang semakin kompetitif dan dinamis.

Freer menekankan bahwa kemudahan investor dalam memindahkan modal ke pasar maju menjadi tantangan tersendiri bagi pasar modal dalam negeri.

Namun, nilai intrinsik yang ditawarkan oleh emiten-emiten di Indonesia tetap menjadi magnet utama bagi para pengelola dana institusional global.

“Namun yang jelas, memang ada potensi nilai pada saham Indonesia yang saat ini sedang dilirik oleh para manajer investasi,” pungkasnya.S&P Dow Jones Ungkap Alasan Saham RI Masih Menarik Investor

Rekomendasi

Tinggalkan komentar