Jakarta – Dominasi sektor teknologi yang dipicu oleh pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) kini memicu kekhawatiran baru terkait konsentrasi pasar saham global.
Direktur Global Exchange Indices di S&P Dow Jones Indices, Sean Freer, mengungkapkan bahwa ketergantungan imbal hasil pasar terhadap segelintir perusahaan raksasa meningkatkan risiko volatilitas yang signifikan.
Pernyataan tersebut disampaikan Freer dalam ajang Fortune Indonesia Investment Forum 2026 yang berlangsung di Jakarta, Sabtu (29/8/2026).
Menurut Freer, perusahaan-perusahaan besar saat ini menjadi motor penggerak utama pertumbuhan indeks pasar saham.
Namun, ia mengingatkan bahwa tren ini memiliki sisi gelap yang patut diwaspadai oleh para pelaku pasar.
“Seperti contoh semikonduktor tadi, ketika mengalami penurunan (retracement), mereka dapat merusak imbal hasil pasar saham dan menarik pasar jatuh ke bawah,” ungkap Freer dalam forum tersebut.
Data S&P Global 1200 yang mencakup 1.200 perusahaan global menunjukkan bahwa sektor teknologi memegang bobot sebesar 33,4 persen per akhir Juni 2026.
Lebih lanjut, sektor ini menyumbang lebih dari 55 persen terhadap total imbal hasil indeks yang mencapai 24,9 persen dalam kurun waktu satu tahun terakhir.
Freer menegaskan bahwa ketergantungan ini tidak hanya berpusat di Amerika Serikat, melainkan juga terjadi di pasar Asia.
Ia mencontohkan perusahaan seperti Apple, Alphabet, serta produsen semikonduktor Asia seperti Samsung, SK Hynix, dan TSMC sebagai penyumbang utama performa pasar.
Di kawasan Asia, reli saham semikonduktor telah menjadi penggerak utama pasar Korea Selatan dan Taiwan selama dua tahun terakhir.
Kendati demikian, koreksi yang terjadi pada bulan Juli lalu menunjukkan betapa rentannya pasar terhadap sentimen sektor tersebut.
Freer mencatat adanya fenomena leverage berlebih di kalangan investor ritel Korea Selatan saat pasar mengalami penurunan tajam.
“Sekitar 300 ribu investor Korea Selatan dilaporkan mendapat margin call dan harus menjual portofolionya dengan cepat karena menggunakan leverage berlebih pada perusahaan-perusahaan tersebut,” jelas Freer.
Tingkat konsentrasi di pasar Asia juga menunjukkan pola yang beragam di tiap negara.
Indonesia dan Singapura, misalnya, masih didominasi oleh sektor keuangan, sementara sektor industri memegang peranan kunci di Jepang.
Di sisi lain, pasar China lebih banyak dipengaruhi oleh sektor barang konsumen non-primer atau consumer discretionary.
Meskipun demikian, konsentrasi pada segelintir perusahaan tetap menjadi tren yang mengkhawatirkan di Asia.
Freer menyebutkan bahwa lima perusahaan terbesar di Korea Selatan, Taiwan, dan Singapura kini menyumbang sekitar 60 persen hingga 70 persen dari indeks masing-masing negara.
Menghadapi risiko tersebut, ia menyarankan investor untuk lebih mengutamakan diversifikasi melalui eksposur pasar yang lebih luas.
Investor yang ingin meminimalisasi risiko disarankan beralih ke indeks yang lebih terdiversifikasi seperti Global, Emerging, atau Pan Asia.
“Anda harus beralih ke sisi kanan dan memilih pasar global, emerging, Pan Asia, atau developed, di mana lima perusahaan teratas di sana hanya mewakili sekitar 20 persen dari indeks, meskipun sektor teknologi berada di atas 30 persen,” kata Freer.
Langkah ini dianggap sebagai strategi yang lebih aman dibandingkan menempatkan modal secara tematik pada area yang terkonsentrasi tinggi.



















