Jakarta – Nilai tukar rupiah menunjukkan tren penguatan signifikan sepanjang pekan pertama September 2026.
Mata uang Garuda berhasil mencatatkan apresiasi terhadap dolar Amerika Serikat di tengah meredanya spekulasi agresif mengenai kebijakan suku bunga The Fed.
Data perdagangan pada Jumat (4/9) menunjukkan rupiah ditutup pada level Rp 17.642 per dolar AS, menguat 0,21 persen dibandingkan hari sebelumnya.
Dalam hitungan mingguan, mata uang domestik ini telah menguat sebesar 0,28 persen dari posisi Rp 17.692 per dolar AS pada 28 Agustus lalu.
Penguatan tersebut juga terkonfirmasi melalui data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) milik Bank Indonesia.
Kurs JISDOR mencatat rupiah berada di level Rp 17.636 per dolar AS pada Jumat (4/9), atau menguat 0,38 persen secara akumulasi mingguan.
Dinamika pasar global menjadi faktor utama yang memicu pelemahan dolar AS terhadap mata uang Asia.
Research & Development ICDX, Muhammad Amru Syifa, menyebut kebijakan moneter Amerika Serikat sebagai penggerak utama pasar.
“Komentar Gubernur The Fed Christopher Waller yang membuka ruang untuk mempertahankan suku bunga jika inflasi terus mereda kembali menekan dolar AS dan mendukung mata uang Asia, termasuk rupiah,” ujar Amru, Jumat (4/9).
Sentimen positif ini sempat terhambat oleh sentimen geopolitik di Timur Tengah yang memicu kenaikan harga minyak dunia.
Lonjakan imbal hasil atau yield US Treasury di awal pekan juga sempat memberikan tekanan tambahan bagi mata uang negara berkembang.
Namun, fundamental ekonomi dalam negeri dinilai cukup kokoh untuk menahan gejolak eksternal.
Inflasi domestik pada Agustus tercatat sebesar 3,19 persen secara tahunan, yang masih berada dalam rentang sasaran Bank Indonesia.
Meskipun indeks manajer pembelian atau PMI manufaktur sempat menyentuh zona kontraksi di angka 49,8, neraca perdagangan tetap mencatatkan surplus.
Surplus neraca perdagangan Juli sebesar US$ 130 juta menjadi salah satu penopang stabilitas cadangan devisa nasional.
Research & Education Coordinator Valbury Asia Futures, Nanang Wahyudin, menyoroti stabilitas kepemimpinan di otoritas moneter sebagai katalis tambahan.
Pelantikan Destry Damayanti sebagai Gubernur BI untuk periode 2026–2031 memberikan kepastian bagi investor mengenai komitmen independensi kebijakan.
“Data terbaru menunjukkan aliran dana asing kembali mendukung aset Indonesia; cadangan devisa juga dilaporkan meningkat menjadi sekitar US$ 146 miliar pada Agustus. Ini menjadi bantalan positif bagi rupiah,” kata Nanang.
Pasar kini tengah mengantisipasi rilis data tenaga kerja Non-Farm Payrolls Amerika Serikat untuk memproyeksi arah kebijakan moneter ke depan.
Pergerakan nilai tukar rupiah pada pekan depan diprediksi akan berada dalam rentang Rp 17.500 hingga Rp 17.850 per dolar AS.
Para analis memperkirakan mata uang Garuda akan bergerak stabil dengan potensi penguatan terbatas, bergantung pada data inflasi AS serta perkembangan eskalasi geopolitik global.






















