Jakarta – Konsumen di Indonesia kini menghadapi lonjakan harga perangkat seluler yang cukup signifikan, dengan estimasi kenaikan berkisar antara 7% hingga 45%.
Fenomena ini dipicu oleh kelangkaan cip memori global yang memaksa produsen menyesuaikan harga jual produk mereka.
Counterpoint Research mencatat bahwa produsen komponen memori saat ini lebih memprioritaskan pasokan DRAM dan NAND untuk kebutuhan pusat data kecerdasan buatan atau AI.
Pengalihan fokus produksi tersebut dilakukan karena segmen AI menawarkan margin keuntungan yang jauh lebih tinggi bagi para produsen komponen.
Kondisi ini secara langsung memangkas ketersediaan pasokan memori untuk perangkat elektronik konsumen, termasuk smartphone.
Dampaknya, biaya komponen untuk ponsel kelas menengah dan bawah mengalami kenaikan drastis sejak awal tahun 2026.
Data Counterpoint Research menunjukkan bahwa biaya komponen untuk ponsel dengan harga di bawah US$ 200 atau sekitar Rp 3,5 juta meningkat antara 20% hingga 30%.
Segmen entry-level menjadi kelompok yang paling terdampak oleh tekanan harga tersebut.
“Segmen entry-level paling terpukul. Konsumen di segmen ini memilih menunda pembelian atau beralih ke ponsel bekas,” ujar Senior Analyst Counterpoint Research, Shilpi Jain, dalam riset Indonesia Smartphone Tracker Q1 2026.
Data tersebut selaras dengan penurunan pengiriman smartphone di Indonesia sebesar 9% secara tahunan pada kuartal pertama tahun ini.
Sebaliknya, segmen premium dengan harga di atas US$ 600 justru mencatatkan pertumbuhan signifikan sebesar 30% secara tahunan.
Kesenjangan pasokan diperkirakan masih akan berlanjut dalam jangka panjang karena produksi chip memori untuk pusat data AI kini menyerap sekitar 70% dari kapasitas global.
IDC mencatat bahwa pasokan DRAM pada tahun 2026 hanya tumbuh 16%, sementara NAND tumbuh 17%, jauh di bawah proyeksi permintaan yang meningkat.
Bahkan, pada kuartal kedua 2026, biaya memori melonjak hampir 300% dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Akibat tekanan biaya ini, produsen terpaksa melakukan penyesuaian konfigurasi perangkat.
Beberapa model ponsel flagship tetap bertahan dengan RAM 12GB tanpa peningkatan kapasitas, sementara model kelas menengah melakukan penyesuaian spesifikasi demi menjaga harga tetap kompetitif.
Senior Analyst Counterpoint Research, Shenghao Bai, mengungkapkan bahwa penurunan kualitas komponen lain juga mulai terlihat.
“Pada sejumlah model, kami melihat penurunan komponen seperti modul kamera,” ungkap Bai.
Perubahan tersebut juga mencakup layar, komponen audio, hingga konfigurasi memori dasar yang disesuaikan menjadi 4GB DRAM.
Melihat tren ini, para ahli menyarankan konsumen agar lebih kritis dalam memilih ponsel dengan mengutamakan daya tahan dibandingkan sekadar spesifikasi di atas kertas.
Senior Research Director for Worldwide Consumer Devices, Nabila Popal, menegaskan bahwa era ponsel dengan harga sangat murah kemungkinan besar telah berakhir.
“Era smartphone ultramurah telah berakhir,” tegas Popal.
Konsumen kini disarankan untuk memperhatikan durabilitas baterai, konsistensi performa jangka panjang, serta jaminan pembaruan sistem operasi dan keamanan.
Pasalnya, proyeksi IDC menunjukkan bahwa tekanan harga memori kemungkinan besar akan terus berlanjut hingga tahun 2028 mendatang.
Bahkan, beberapa eksekutif industri memperingatkan bahwa ketimpangan pasokan memori berpotensi bertahan hingga melewati tahun 2030.
Oleh karena itu, menunda pembelian dengan harapan harga akan kembali ke level tahun 2025 dinilai sebagai langkah yang kurang realistis bagi calon pembeli.






















