Harga Minyak Berpotensi Naik, Simak Prospek Saham MEDC, ELSA, PGAS, TPIA

Rayhan Akhari

Harga Minyak Berpotensi Naik, Simak Prospek Saham MEDC, ELSA, PGAS, TPIA

Jakarta – Ketegangan geopolitik antara Iran dan Amerika Serikat kembali mencuatkan kekhawatiran global terhadap stabilitas pasokan energi melalui Selat Hormuz. Kondisi ini memicu proyeksi defisit pasokan minyak dunia hingga 0,6 juta barel per hari pada 2026, yang secara langsung berdampak pada fluktuasi harga komoditas energi serta kinerja emiten migas di Bursa Efek Indonesia.

Investor kini mencermati potensi keuntungan sekaligus risiko bagi perusahaan sektor migas dan petrokimia domestik, seperti PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC), PT Elnusa Tbk (ELSA), PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS), dan PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA).

Managing Director of Research Samuel Sekuritas Indonesia, Harry Su, menjelaskan bahwa munculnya premi geopolitik pada harga minyak memberikan dampak yang variatif bagi para emiten. Ia menuturkan bahwa kondisi ini merupakan katalis langsung bagi MEDC, sentimen positif tidak langsung bagi ELSA, posisi netral bagi PGAS, dan dampak campuran bagi TPIA.

Harry Su menambahkan, kenaikan harga minyak memang berpotensi mendongkrak harga jual produk TPIA. Namun, hal tersebut juga berisiko menaikkan biaya bahan baku naphtha yang menjadi komponen utama produksi petrokimia perusahaan.

Secara fundamental, MEDC dipandang sebagai emiten dengan eksposur paling kuat terhadap fluktuasi harga komoditas. Pertumbuhan produksi dari Blok Corridor dan Forel–Terubuk, ditambah dengan kontribusi bisnis ketenagalistrikan, menjadi pilar utama penopang kinerja perseroan. Analis Maybank Sekuritas Indonesia, Hasan Barakwan, memproyeksikan produksi migas MEDC mampu mencapai 145 mboepd, yang menjadi faktor krusial dalam pertumbuhan laba di tengah tren harga minyak tinggi.

Di sisi lain, ELSA dinilai memiliki prospek cerah berkat peningkatan aktivitas eksplorasi dan pengeboran yang dilakukan oleh kontraktor migas. Analis Bahana Sekuritas, Abdusshomad Cakra Buana, menempatkan ELSA sebagai pilihan utama investor untuk menangkap siklus belanja modal hulu. Ia menggarisbawahi kekuatan backlog kontrak jasa migas ELSA yang mencapai Rp1,3 triliun, dengan proyeksi pertumbuhan laba bersih sebesar 12 persen secara tahunan.

Berbeda dengan sektor hulu, PGAS menunjukkan karakter bisnis yang lebih defensif. Analis UBS Global Research, Timothy Handerson, mencatat bahwa stabilitas volume distribusi gas sebesar 880 BBTUD serta margin penyaluran yang terjaga di kisaran US$1,8–US$2,0 per MMBTU membuat arus kas perusahaan tetap tangguh di tengah volatilitas energi.

Terkait TPIA, Analis Henan Putihrai Sekuritas, Dennis Tay, menyoroti transformasi perusahaan menjadi platform energi dan kimia terintegrasi. Meskipun dibayangi biaya bahan baku, TPIA terbantu oleh pemulihan spread petrokimia di kisaran US$350–US$400 per ton serta tambahan kontribusi EBITDA dari aset infrastruktur.

Para analis tetap mengingatkan investor akan risiko penurunan jika konflik geopolitik mereda dan pasokan minyak kembali normal. Analis Kiwoom Sekuritas, Sukarno Alatas, menyatakan bahwa normalisasi pasokan dapat menekan harga minyak Brent kembali ke level US$70–US$80 per barel. Meski demikian, sektor migas hingga akhir 2026 dinilai masih memiliki prospek positif berkat backlog kontrak yang kuat. Saat ini, rekomendasi beli diberikan kepada MEDC dan TPIA dengan target harga masing-masing Rp1.900 dan Rp3.000, sementara ELSA dan PGAS ditargetkan pada level Rp845 dan Rp1.615 per saham.

Rekomendasi

Tinggalkan komentar