Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi akan bergerak terbatas dengan kecenderungan fluktuatif pada perdagangan Senin (7/9/2026).
Investor di pasar modal domestik kini tengah menanti arah kebijakan moneter Amerika Serikat serta memantau eskalasi geopolitik antara AS dan Iran yang berpotensi memicu volatilitas.
Pada penutupan perdagangan Jumat lalu, IHSG sempat mengalami koreksi sebesar 0,47 persen ke posisi 6.636.
Pergerakan indeks sepanjang awal pekan ini diperkirakan masih akan sangat dipengaruhi oleh dinamika arus modal asing dan sentimen pasar global.
Pengamat Pasar Modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana, memproyeksikan rentang pergerakan IHSG berada di kisaran 6.580 hingga 6.700.
“Selama IHSG masih mampu bertahan di atas 6.580, struktur pergerakan jangka pendek masih relatif sehat,” ujar Hendra, Minggu (6/9/2026).
Hendra menambahkan bahwa akumulasi beli bersih oleh investor asing sebesar Rp1,6 triliun dalam sepekan terakhir menjadi katalis positif yang menjaga optimisme pasar.
Selain itu, komentar dovish dari pejabat The Fed, Christopher Waller, memberikan harapan bagi pasar negara berkembang untuk mencatatkan kinerja lebih baik.
Penurunan imbal hasil obligasi AS dan pelemahan dolar Amerika Serikat dinilai dapat menjadi sentimen pendukung, meski data ketenagakerjaan AS tetap menjadi variabel yang harus diwaspadai.
Di sisi lain, pergerakan nilai tukar rupiah yang saat ini berada di kisaran Rp17.642 per dolar AS menjadi faktor krusial bagi stabilitas pasar.
Hendra menekankan bahwa kondisi pasar akan tetap terjaga selama mata uang Garuda tidak tertekan mendekati level psikologis Rp18.000 per dolar AS.
Secara teknikal, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menyatakan bahwa tren IHSG saat ini masih berada dalam fase bullish.
Hal tersebut didukung oleh indikator teknikal seperti MA20 dan MA60 yang menunjukkan pola bullish crossover, serta sinyal positif dari indikator Stochastic dan RSI.
Namun, Nafan memberikan catatan bahwa penurunan volume perdagangan harus diwaspadai oleh para pelaku pasar dengan menerapkan manajemen risiko yang ketat.
Berbeda dengan pandangan tersebut, VP Equity Retail Kiwoom Sekuritas Indonesia, Oktavianus Audi, memprediksi IHSG akan bergerak mixed dengan kecenderungan melemah terbatas.
Audi menyoroti risiko ketegangan di Selat Hormuz akibat konflik AS-Iran yang dapat mengganggu pasokan energi global dan meningkatkan harga minyak mentah.
“Perkembangan terbaru konflik AS-Iran juga kembali meningkatkan risiko gangguan pengiriman energi melalui kawasan tersebut,” jelas Audi.
Sektor energi, perbankan, dan telekomunikasi diprediksi akan menjadi fokus perhatian investor pada awal pekan ini.
Hendra menyarankan beberapa saham untuk dicermati, di antaranya PTBA dengan target harga Rp3.100, CUAN di level Rp1.100, BUMI di Rp250, serta INET di harga Rp400.
Sementara itu, Audi merekomendasikan PTRO dengan strategi buy on break dan TINS dengan pola trading buy.



















