Menakar Prospek Saham GIAA dan CMPP Menjelang Libur Nataru

Rayhan Akhari

Menakar Prospek Saham GIAA dan CMPP Menjelang Libur Nataru

Jakarta – Sektor penerbangan nasional tengah bersiap menghadapi lonjakan permintaan pada periode libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2026/2027.

Pemerintah telah merespons kenaikan harga avtur dengan meningkatkan batas maksimal fuel surcharge (FS) dari 30% menjadi 40% dari Tarif Batas Atas (TBA).

Kebijakan ini diharapkan mampu menjadi bantalan bagi arus kas emiten maskapai seperti PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) dan PT AirAsia Indonesia Tbk (CMPP).

Research Analyst Bumiputera Sekuritas, Muhammad Thoriq Fadilla, menyatakan bahwa penyesuaian batas tersebut berfungsi sebagai mekanisme perlindungan di tengah tren kenaikan harga bahan bakar.

Fuel surcharge 40% membantu menstabilkan margin operasional dalam jangka pendek, tetapi perbaikan laba bersih tetap bergantung pada efisiensi non-avtur, okupansi, dan stabilitas nilai tukar,” ujar Thoriq, Jumat (4/9/2026).

Data per 1 September 2026 menunjukkan rata-rata harga avtur mencapai Rp23.315 per liter atau naik 6,5% secara bulanan.

Komponen bahan bakar sendiri berkontribusi sebesar 30% hingga 40% terhadap total biaya operasional maskapai penerbangan.

Meski ruang kenaikan tarif tersedia, para pelaku industri tidak serta-merta menerapkan batas maksimal tersebut demi menjaga daya beli masyarakat.

Analis sekaligus Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah, Elandry Pratama, menyebut kebijakan ini sebagai langkah mitigasi yang belum sepenuhnya menutup beban biaya.

“40% merupakan batas maksimal dan maskapai tetap harus mempertimbangkan kompetisi serta daya beli sebelum melakukan cost pass-through,” jelas Elandry.

Ia menambahkan, kebijakan ini berpotensi bersifat transisi sambil menunggu revisi formula TBA dari pemerintah.

Dari sisi permintaan, periode Nataru diprediksi tetap mencatatkan load factor di atas 80% karena sifat kebutuhan yang inelastis.

Adanya insentif Pajak Pertambahan Nilai (PPN) Ditanggung Pemerintah juga diproyeksikan mampu menahan kenaikan harga tiket akhir hanya di kisaran 9% hingga 13%.

Namun, tantangan akan muncul setelah periode liburan usai, di mana volume penumpang diprediksi kembali normal dengan tekanan tarif yang tetap tinggi.

Dalam hal kinerja korporasi, GIAA dipandang memiliki prospek turnaround yang lebih kredibel dibandingkan CMPP.

GIAA didukung oleh pertumbuhan pendapatan kuartal I 2026, EBITDA positif, serta suntikan modal dari Danantara senilai Rp6,6 triliun.

Di sisi lain, CMPP masih mencatatkan kerugian bersih mencapai Rp1,45 triliun pada semester I 2026, meski efisiensi operasional mulai terlihat.

Diskoneksi harga avtur sebesar 10% dari Pertamina di 37 bandara selama Nataru diharapkan menjadi katalis tambahan bagi margin operasional maskapai.

Namun, beban bunga dan selisih kurs diprediksi masih menjadi tantangan bagi profitabilitas emiten.

Dalam perspektif investasi, Thoriq merekomendasikan Buy on Breakout untuk GIAA dengan target harga di level Rp76-Rp80 per saham.

Elandry memberikan pandangan serupa dengan rekomendasi speculative buy untuk GIAA, sementara untuk CMPP disarankan strategi hold atau trading buy on weakness.

Risiko utama bagi kedua maskapai tersebut tetap terletak pada volatilitas harga avtur, pelemahan rupiah, serta ketidakpastian regulasi tarif di masa depan.

Rekomendasi

Tinggalkan komentar