Bunga KPR Rendah Tak Dongkrak Pasar Properti, Expo Danantara Lesu

persen

Bunga KPR Rendah Tak Dongkrak Pasar Properti, Expo Danantara Lesu

Jakarta – Sektor properti nasional menghadapi tantangan berat dalam memulihkan gairah pasar meski telah didukung oleh berbagai insentif pembiayaan agresif dari perbankan pelat merah.

Indikasi lesunya minat beli masyarakat terlihat jelas dalam pameran perumahan Danantara yang berlangsung di NICE PIK 2 pada 27–30 Agustus 2026.

Data menunjukkan ajang tersebut hanya mampu mencatatkan transaksi sebesar Rp 2 triliun.

Angka tersebut jauh dari target awal yang dipatok penyelenggara sebesar Rp 10 triliun.

Analis Indo Premier Sekuritas, Halima Yefany, dalam risetnya pada 7 September 2026, menegaskan bahwa penurunan beban bunga dan kemudahan pembiayaan tidak cukup untuk mendongkrak penjualan.

“Transaksi yang hanya mencapai Rp 2 triliun dibandingkan target Rp 10 triliun menunjukkan bahwa biaya pembiayaan yang lebih rendah saja mungkin belum mampu mengangkat permintaan,” ungkap Halima dalam risetnya, sebagaimana dikutip Indo Premier Sekuritas (7/9/2026).

Pameran ini sebenarnya telah melibatkan lebih dari 130 pengembang dan lembaga keuangan.

Berbagai kemudahan ditawarkan, mulai dari uang muka rendah sebesar 1%, bunga tetap bertahap mulai 2,75% per tahun, hingga tenor panjang mencapai 30 tahun.

Namun, pengembang besar seperti Pakuwon Jati (PWON), Ciputra Development (CTRA), dan Bumi Serpong Damai (BSDE) tetap mencatat volume penjualan yang terbatas.

Strategi promosi agresif, seperti pemberian emas 44 gram oleh PWON, diskon harga hingga 20% oleh BSDE, hingga peluncuran klaster baru oleh CTRA, belum mampu memicu antusiasme pasar secara masif.

Konsumen terbukti tetap bersikap sangat selektif dalam melakukan pembelian properti.

Sebagian besar transaksi hanya terkonsentrasi pada hunian di kisaran harga Rp 2 miliar.

Selain masalah daya beli, faktor lokasi menjadi hambatan utama bagi segmen rumah subsidi dan hunian terjangkau.

Banyak proyek perumahan yang dipasarkan dalam rentang harga Rp 166 juta hingga Rp 387 juta terletak di wilayah pinggiran.

“Sebagian besar proyek berlokasi sekitar satu hingga dua jam dari CBD,” jelas Halima dalam risetnya Indo Premier Sekuritas (7/9/2026).

Jarak tempuh yang jauh dari pusat aktivitas ekonomi membuat konsumen enggan mengambil komitmen finansial jangka panjang.

Kondisi ini membuat Indo Premier Sekuritas mempertahankan rekomendasi netral untuk sektor properti.

Valuasi sektor ini saat ini berada dua standar deviasi di bawah rata-rata lima tahun.

Hal tersebut mencerminkan prospek Return on Equity (ROE) yang masih tertekan.

Di tengah ketidakpastian pasar, Pakuwon Jati (PWON) masih menjadi pilihan utama atau top pick karena memiliki pendapatan berulang yang lebih stabil.

Urutan preferensi saham sektor properti menurut Indo Premier Sekuritas adalah PWON, disusul oleh SMRA, CTRA, dan BSDE.

Investor kini diminta untuk lebih mencermati risiko makroekonomi dan perubahan regulasi yang dapat menekan pasar properti lebih dalam.

Kegagalan pameran Danantara mencapai target menjadi sinyal bahwa masalah utama industri perumahan saat ini melampaui sekadar isu suku bunga KPR.

Faktor lokasi strategis, daya beli riil, dan kepercayaan konsumen menjadi penentu utama pemulihan sektor ini di masa depan.

Rekomendasi

Tinggalkan komentar