Jakarta – Saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) tengah menghadapi tantangan ganda menyusul perubahan kebijakan Bursa Efek Indonesia (BEI) terkait penghapusan batas harga minimum Rp 50 dan intervensi pemerintah pada skema komisi layanan ride-hailing.
Kebijakan BEI yang meniadakan batas harga minimum di pasar reguler dinilai memicu potensi volatilitas harga saham GOTO dalam jangka pendek.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menyebutkan bahwa kebijakan tersebut memberikan ruang bagi pemegang saham yang sebelumnya tertahan di level Rp 50 untuk melakukan aksi jual.
Secara teknikal, pergerakan harga saham GOTO berisiko menguji level di kisaran Rp 20 hingga Rp 30 per saham.
Bahkan, dalam skenario tekanan jual yang sangat kuat, harga saham perseroan berpotensi menembus kisaran Rp 10 hingga Rp 20 per saham.
Meski demikian, mekanisme price discovery yang lebih terbuka dinilai dapat meningkatkan likuiditas transaksi di pasar.
Hal ini memungkinkan investor institusi maupun strategis untuk menentukan valuasi perusahaan dengan pendekatan yang lebih rasional.
Managing Director of Research Division PT Samuel Sekuritas Indonesia, Harry Su, menegaskan bahwa perubahan regulasi bursa tersebut tidak memberikan dampak langsung terhadap operasional bisnis maupun arus kas perusahaan.
“Penghapusan batas harga IDR50 lebih berdampak pada volatilitas dan price discovery saham, sementara secara fundamental tidak memengaruhi bisnis maupun cash flow GOTO,” ujar Harry Su, Rabu (9/9).
Di sisi operasional, beban tambahan muncul dari rencana pemerintah yang akan membatasi komisi layanan kendaraan roda dua (GoRide) dari 20% menjadi 8%.
Kebijakan ini diproyeksikan akan menekan pendapatan serta profitabilitas segmen On-Demand Services (ODS) secara signifikan.
Akibat aturan tersebut, GOTO terpaksa memangkas target adjusted EBITDA untuk segmen ODS tahun 2026 sebesar Rp 300 miliar.
Target EBITDA segmen ODS kini dipatok pada kisaran Rp 1,4 triliun hingga Rp 1,5 triliun.
Manajemen GOTO tetap optimistis mempertahankan panduan adjusted EBITDA grup di kisaran Rp 3,2 triliun hingga Rp 3,4 triliun hingga akhir tahun.
Keyakinan ini bersandar pada solidnya pertumbuhan ekosistem bisnis fintech melalui layanan GoPay.
Data menunjukkan bahwa pada kuartal II 2026, EBITDA segmen fintech tercatat sebesar Rp 481 miliar, melampaui raihan EBITDA segmen ODS yang berada di angka Rp 464 miliar.
Nafan Aji Gusta menambahkan bahwa diversifikasi bisnis yang semakin matang menjadi fondasi utama ketahanan kinerja perseroan.
Strategi monetisasi kini diarahkan pada peningkatan volume transaksi, efisiensi unit economics, layanan iklan, serta layanan merchant.
Secara fundamental, perseroan menunjukkan tren positif dengan membukukan laba bersih sebesar Rp 608 miliar pada semester I 2026.
Atas dasar performa tersebut, analis OCBC Sekuritas, Gani Gani, memberikan rekomendasi beli (buy) untuk saham GOTO dengan target harga Rp 67 per saham.





















