Jakarta – Danantara Development Management Fund (DDMF), entitas di bawah naungan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara), kini tengah mematangkan rencana pengelolaan 12 proyek strategis nasional.
Daftar proyek tersebut mencakup pembangunan tanggul laut raksasa atau giant sea wall, pengembangan industri logam tanah jarang, hingga inisiatif gasifikasi batu bara.
Managing Director Development Investment DDMF, Rachmat Kaimuddin, menegaskan bahwa lembaganya mengemban mandat khusus untuk mempercepat pembangunan nasional.
Fokus utama DDMF adalah mendukung proyek layanan publik yang memiliki dampak sosial serta ekonomi signifikan bagi masyarakat luas.
“Dimandatkan bahwa kami bisa melakukan very long term investment, dan kami juga bisa mengambil return yang di bawah commercial. So we can give concessional financing,” ujar Rachmat dalam acara HHP Law Firm di Jakarta, Rabu (9/9), sebagaimana dikutip dari laporan resmi.
Rachmat menjelaskan bahwa saat ini seluruh struktur pembiayaan untuk 12 proyek tersebut masih dalam tahap kajian mendalam.
Setiap inisiatif wajib mengikuti ketentuan dalam Peraturan Presiden Nomor 28 Tahun 2026 tentang Penyelenggaraan Investasi Pembangunan dalam Rangka Percepatan Pertumbuhan Ekonomi.
Proses tersebut mengharuskan setiap proyek melalui tahapan pre-feasibility study (pre-FS) dan feasibility study (FS) sebelum struktur pendanaan final ditetapkan.
Terkait nilai investasi, pihaknya belum dapat membeberkan angka pasti karena masih dalam tahap evaluasi teknis dan administratif.
Namun, Rachmat memastikan bahwa peran utama DDMF adalah bertindak sebagai katalisator untuk menarik minat pendanaan dari sektor swasta.
“Jadi hari ini belum bisa saya sampaikan dulu struktur, tempatnya seperti apa, tapi nanti kita atur memang tujuan kami adalah mengkatalis dana dari kami dan juga dari private sector,” tambahnya.
Daftar 12 proyek tersebut dikelompokkan ke dalam tiga pilar Program Kerja Prioritas Nasional (PKPN).
Sektor kemandirian energi dan air mencakup pengembangan Mobil Nasional (Mobnas), Motor Listrik Nasional (Molinas), utility-scale solar and storage, serta gasifikasi batu bara.
Sektor hilirisasi dan industrialisasi meliputi industri semikonduktor, farmasi, logam tanah jarang, dan tekstil.
Sementara sektor infrastruktur, perumahan, dan ketahanan bencana mencakup proyek giant sea wall, infrastruktur konektivitas, perumahan, smart cities, serta sistem pengelolaan sampah.
Di sisi lain, Anggota Dewan Ekonomi Nasional (DEN), Mochammad Firman Hidayat, menilai inisiatif ini memiliki potensi besar dalam mendongkrak pertumbuhan ekonomi nasional.
Menurut Firman, proyek gasifikasi batu bara berpotensi menciptakan nilai tambah yang signifikan, serupa dengan kesuksesan hilirisasi nikel di Indonesia.
“Kalau proses gasifikasi akhirnya mirip dengan nikel. Yang tadinya kita raw material, kemudian sekarang kita olah sehingga ada nilai tambahnya,” kata Firman.
Ia menambahkan bahwa penguatan ekosistem kendaraan listrik di dalam negeri akan memperkuat rantai pasok domestik secara berkelanjutan.
Firman juga menyoroti pentingnya konsolidasi badan usaha milik negara (BUMN) untuk meningkatkan kapasitas investasi pemerintah ke depan.
Konsolidasi dianggap krusial agar BUMN memiliki skala bisnis yang lebih masif, efisien, dan lincah dalam menjalankan proyek strategis.
Dengan langkah ini, produktivitas BUMN diharapkan meningkat dan mampu mendukung agenda pembangunan nasional secara lebih efektif.



















