Jakarta – Eskalasi ketegangan di Timur Tengah kembali mengerek harga minyak dunia menembus level psikologis US$ 100 per barel pada perdagangan Kamis (10/9/2026).
Harga minyak acuan Brent kini bertengger di angka US$ 101,33 per barel.
Lonjakan ini dipicu oleh sikap Iran yang menyatakan kesiapan penuh menghadapi intensifikasi konflik militer di kawasan tersebut.
Kondisi tersebut memicu kekhawatiran global terhadap potensi gangguan serius pada jalur distribusi energi utama melalui Selat Hormuz.
Data pasar menunjukkan minyak West Texas Intermediate (WTI) turut terkerek naik sebesar 0,5 persen menjadi US$ 96,56 per barel.
Secara akumulatif, harga Brent tercatat telah mengalami kenaikan signifikan hampir 70 persen sepanjang tahun 2026.
Menteri Energi Amerika Serikat, Chris Wright, memberikan catatan penting mengenai urgensi wilayah tersebut dalam rantai pasok global.
Hampir 11 juta barel minyak mentah dan produk turunannya mengalir melalui Selat Hormuz setiap harinya, seperti dilansir Bloomberg.
Gangguan pada rute ini diperkirakan akan memberikan tekanan lebih lanjut pada harga produk olahan seperti diesel.
Risiko pasokan ini diperparah oleh tumpang tindih konflik antara Iran dengan Amerika Serikat serta perang Rusia-Ukraina yang masih berlangsung.
Warren Patterson, Kepala Strategi Komoditas di ING Groep NV, menyoroti dampak politik dari kenaikan harga energi ini.
“Kenaikan harga minyak akan menjadi perhatian menjelang pemilu paruh waktu,” ujar Patterson dikutip dari Bloomberg, Kamis (10/9).
Pemerintah Iran menegaskan tidak akan mundur menghadapi blokade angkatan laut yang diterapkan oleh Amerika Serikat.
Teheran bahkan mengancam akan meningkatkan intensitas serangan jika Amerika Serikat terus melancarkan operasi militer di wilayah mereka.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, sebelumnya mengisyaratkan bahwa perang kemungkinan besar akan berlanjut hingga pemilihan umum paruh waktu pada November mendatang.
Trump menyebutkan bahwa penurunan harga bahan bakar secara signifikan belum akan terjadi dalam waktu dekat.
Skenario perang berkepanjangan ini bahkan telah dibahas secara internal oleh para penasihat Gedung Putih, termasuk Wakil Presiden JD Vance.
Kondisi tersebut dinilai bakal terus menguras sumber daya militer Amerika Serikat sekaligus menjaga volatilitas harga minyak tetap tinggi.
Meskipun saat ini harga telah melampaui US$ 100 per barel, angka tersebut masih berada di bawah rekor tertinggi perang sebesar US$ 126 per barel pada April lalu.
Faktor yang menjaga pasokan tetap ada adalah masih mengalirnya sebagian minyak mentah dari wilayah Teluk Persia.
Di sisi lain, pasar global juga terpengaruh oleh aktivitas pembelian minyak yang masif dari Cina.
Namun, pengolahan minyak di Cina diperkirakan melambat karena tekanan biaya akibat lonjakan harga energi global.
Penurunan tingkat pengolahan di kilang-kilang kecil Cina berpotensi menekan permintaan dari negara importir minyak terbesar dunia tersebut.





















