DEN Peringatkan Risiko Arus Modal Keluar Akibat Disiplin Fiskal Lemah

persen

DEN Peringatkan Risiko Arus Modal Keluar Akibat Disiplin Fiskal Lemah

Jakarta – Dewan Ekonomi Nasional (DEN) memberikan peringatan keras kepada pemerintah mengenai urgensi menjaga disiplin fiskal demi mencegah potensi pelarian modal asing atau capital outflow dari pasar domestik.

Anggota DEN, Heriyanto Irawan, menegaskan bahwa kredibilitas dalam pengelolaan keuangan negara menjadi syarat mutlak untuk mempertahankan kepercayaan investor global di tengah ketidakpastian ekonomi dunia.

Pernyataan tersebut disampaikan Heriyanto dalam acara bertajuk Mobilizing Capital and Strategic Certainty for Indonesia’s Next Growth Phase di Jakarta, Rabu (9/9).

Menurutnya, Indonesia saat ini sangat bergantung pada investasi asing di pasar modal yang mencapai nilai fantastis.

Data menunjukkan investor asing telah menempatkan dana sekitar US$ 88 miliar atau setara Rp 1.544,6 triliun ke dalam instrumen surat berharga di Indonesia.

“Karena salah satu pilar yang penting buat kita adalah meyakinkan investor asing yaitu kredibilitas dari bagaimana kita mengelola fiskal,” ujar Heriyanto dalam forum tersebut.

Ia menambahkan bahwa jika terjadi penarikan dana secara tiba-tiba dalam skala besar, stabilitas ekonomi nasional akan terganggu secara signifikan.

Sebagai simulasi, Heriyanto menyebutkan bahwa penarikan dana sebesar 10 persen saja dari total investasi asing tersebut akan memberikan dampak yang lumayan bagi perekonomian nasional.

Risiko ini semakin nyata mengingat daya tarik imbal hasil atau yield surat berharga di negara maju, seperti Amerika Serikat dan Jepang, terus menunjukkan tren peningkatan.

Apabila imbal hasil di negara-negara maju tersebut berada di atas level 3 persen, maka aset di negara tersebut akan menjadi jauh lebih menarik dibandingkan pasar negara berkembang.

Oleh karena itu, pemerintah diminta untuk menjaga disiplin fiskal, terutama dalam menentukan postur anggaran untuk tahun depan.

Proyeksi defisit fiskal yang dipatok di kisaran 2,5 persen dinilai sebagai langkah positif yang harus dipertahankan untuk menjaga kepercayaan pasar.

“Ini membuat kita semua mengingatkan bahwa kita harus sangat disiplin mengelola fiskal,” jelasnya.

Selain ancaman dari pasar global, DEN juga menyoroti tantangan dari sisi harga komoditas, terutama minyak bumi yang cenderung fluktuatif.

Heriyanto mengingatkan bahwa pergerakan harga minyak dunia perlu diwaspadai karena dapat berdampak langsung pada stabilitas ekonomi dalam negeri.

Di sisi lain, persoalan domestik terkait daya beli masyarakat dan penciptaan lapangan kerja juga menjadi sorotan utama bagi pemerintah.

Ia menekankan bahwa konsumsi masyarakat sangat bergantung pada ketersediaan lapangan kerja yang berkualitas serta pertumbuhan pendapatan.

Saat ini, tingkat pengangguran di kalangan pemuda masih cukup tinggi, yakni mencapai 16 persen dari total angkatan kerja.

Kondisi ini menjadi tantangan serius mengingat Indonesia diprediksi akan menghadapi lonjakan jumlah angkatan kerja dalam 10 hingga 15 tahun ke depan.

“Ini satu realitas yang harus kita tahu, harus kita pahami, dan harus kita plan ke depan solusinya apa,” tutur Heriyanto.

Pihaknya menyarankan agar pemerintah segera melakukan deregulasi dan penyederhanaan aturan guna memperbaiki iklim investasi.

Langkah tersebut dianggap sebagai kunci utama untuk mendorong penciptaan lapangan kerja yang lebih berkualitas di masa mendatang.

Hingga saat ini, tren investasi dinilai belum sepenuhnya pulih sesuai dengan harapan pemerintah untuk menggerakkan roda ekonomi secara optimal.

Rekomendasi

Tinggalkan komentar