Jakarta – Pemerintah memastikan kesiapan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dalam menghadapi lonjakan harga minyak dunia yang menembus angka US$ 101 per barel pada Kamis (10/9).
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa alokasi subsidi saat ini masih dalam posisi aman dan belum memerlukan penambahan anggaran.
Pihaknya mengaku terus melakukan pemantauan ketat terhadap pergerakan harga komoditas energi global agar tidak memberikan tekanan berlebih pada fiskal nasional.
“Belum, belum. Tapi kami waspadai terus perkembangannya. Jangan sampai naik lebih tinggi lagi,” ujar Purbaya saat ditemui di kantor Kementerian Keuangan, Jakarta Pusat, Kamis (10/9).
Pemerintah mengimbau masyarakat untuk tetap tenang karena akumulasi harga minyak dunia secara rata-rata masih berada di bawah asumsi makro sebesar US$ 90 per barel.
Menurut Purbaya, ruang fiskal yang tersedia masih cukup luas untuk menjaga keberlangsungan anggaran negara hingga akhir tahun.
Pemerintah tetap berkomitmen menjaga defisit anggaran berada di bawah ambang batas 3% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
Data Kementerian Keuangan mencatat defisit anggaran per Agustus berada di level 0,95%, naik tipis dari posisi Juli yang tercatat sebesar 0,91%.
Purbaya menambahkan bahwa fluktuasi harga minyak dunia saat ini tidak akan mengganggu daya beli masyarakat secara luas.
“Kalau di-absorb di APBN kan enggak kan. Sebagian mungkin yang Pertamax dan nonsubsidi akan terkena, tapi kan masyarakat umum daya belinya nggak terganggu, yang umum yang Pertalite masih disubsidi,” ungkapnya.
Lonjakan harga minyak mentah Brent ke level US$ 101 per barel dipicu oleh eskalasi konflik di Timur Tengah.
Situasi geopolitik tersebut menimbulkan kekhawatiran global akan terganggunya jalur distribusi minyak melalui Selat Hormuz.
Data pasar menunjukkan minyak Brent berada di posisi US$ 101,33 per barel, sementara minyak West Texas Intermediate (WTI) naik 0,5% menjadi US$ 96,56 per barel.
Secara akumulatif, harga minyak Brent telah mengalami kenaikan signifikan mencapai hampir 70% sepanjang tahun berjalan.
Meskipun telah menembus level psikologis US$ 100 per barel, harga tersebut masih berada di bawah rekor tertinggi pada April lalu yang sempat mencapai US$ 126 per barel.
Pasokan minyak mentah dari Teluk Persia terpantau masih mengalir meski terdapat ancaman keamanan di jalur pelayaran vital dunia.
Menteri Energi Amerika Serikat, Chris Wright, mencatat bahwa sekitar 11 juta barel minyak mentah dan produk olahannya melintas melalui Selat Hormuz setiap hari.
Kenaikan harga produk olahan seperti diesel bahkan tercatat lebih tajam akibat risiko pasokan yang dipicu oleh konflik di Iran serta situasi di Rusia dan Ukraina.
Para analis pasar global menyoroti bahwa tren kenaikan harga energi ini menjadi perhatian utama berbagai negara menjelang periode politik di beberapa wilayah.
“Kenaikan harga minyak akan menjadi perhatian menjelang pemilu paruh waktu,” kata Kepala Strategi Komoditas di ING Groep NV., Warren Patterson, sebagaimana dikutip dari Bloomberg, Kamis (10/9).






















