Anak Perusahaan Hashim Garap Pengelolaan Blok Natuna D-Alpha

persen

Anak Perusahaan Hashim Garap Pengelolaan Blok Natuna D-Alpha

Jakarta – PT Nations Petroleum resmi mendapatkan hak pengelolaan Wilayah Kerja (WK) migas Natuna D-Alpha setelah memenangkan proses lelang yang diselenggarakan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).

Keputusan tersebut dituangkan dalam Surat Keputusan Menteri ESDM Nomor 108.K/MG.4/DJM/2026 yang diterbitkan pada 17 September 2026.

Nations Petroleum merupakan anak usaha dari Arsari Group, entitas bisnis yang dimiliki oleh Hashim Djojohadikusumo.

WK Natuna D-Alpha dikenal sebagai salah satu lapangan gas raksasa di Indonesia dengan cadangan mencapai 230 triliun kaki kubik (TCF) gas dan 350 juta barel minyak (MMBO).

Lokasi lapangan ini berada di lepas pantai, tepatnya sekitar 250 kilometer dari Kepulauan Natuna.

Sejarah eksplorasi blok ini dimulai sejak 1973 oleh perusahaan asal Italia, Agip, yang pertama kali menemukan struktur potensi gas di sana.

Namun, blok tersebut sempat dikembalikan ke pemerintah Indonesia sebelum akhirnya dikelola oleh Pertamina pada 2008.

Pada 2022, Pertamina memutuskan untuk melakukan terminasi atau mengembalikan pengelolaan lapangan D-Alpha kepada negara.

Kepala SKK Migas yang menjabat saat itu, Dwi Soetjipto, menjelaskan bahwa keputusan tersebut diambil karena karakteristik lapangan yang menantang.

“Pertamina tidak lepas semua. Yang dikembalikan ke negara hanya Lapangan D-Alpha karena CO2-nya tinggi,” ujar Dwi sebagaimana dikutip dari pernyataan resmi di kantor Kementerian ESDM, Jumat (12/9/2022).

Tingginya kandungan karbondioksida (CO2) yang mencapai 71% memang menjadi tantangan utama dalam pengembangan lapangan ini.

Dari total cadangan gas yang tersedia, hanya sekitar 46 TCF yang dinyatakan layak untuk dieksploitasi.

Direktur Jenderal Migas sebelumnya, Tutuka Ariadji, sempat menyoroti beratnya medan operasional serta aspek keekonomian proyek.

“Selain itu infrastrukturnya belum bagus kalau Natuna D-Alpha itu masalah kandungan karbon dioksidanya yang sangat tinggi,” tutur Tutuka.

Sebelum jatuh ke tangan Nations Petroleum, pemerintah sempat menawarkan blok ini dalam beberapa rangkaian lelang, namun sempat terkendala minimnya minat investor.

Blok ini juga sempat masuk dalam daftar studi bersama antara perusahaan asal Kuwait, Kufpec, dengan Shell.

Tahun lalu, Kepala SKK Migas Djoko Siswanto sempat mengungkapkan bahwa pihak Kufpec sedang berupaya mencari mitra strategis untuk pengembangan blok tersebut.

“Kufpec itu pemimpin dari Natuna D-Alpha, mereka lagi mencari partner,” ujar Djoko.

Selain menguasai Natuna D-Alpha, Arsari Group juga tengah memperluas portofolionya di sektor migas melalui PT Nations Natuna Barat.

Perusahaan tersebut saat ini sedang merampungkan akuisisi 75% hak partisipasi di Blok Duyung, Cekungan West Natuna, Kepulauan Riau.

Proyek di Blok Duyung difokuskan pada pengembangan Lapangan Gas Mako yang saat ini dioperasikan oleh Conrad Asia Energy Ltd.

Arsari Group berkomitmen membiayai 75% biaya Kontrak Bagi Hasil Produksi (PSC) dan menanggung porsi operator hingga fase pengembangan pertama.

Nilai transaksi akuisisi tersebut mencapai US$ 16 juta atau sekitar Rp 268,88 miliar.

Setelah akuisisi rampung, Conrad Asia Energy akan tetap menjadi operator dengan kepemilikan 25% hak partisipasi.

Pengembangan Lapangan Mako ditargetkan mencapai produksi gas pertama atau first gas pada kuartal IV tahun 2027 mendatang.

Rekomendasi

Tinggalkan komentar