Jakarta – Industri perunggasan nasional mencatatkan kinerja positif sepanjang Agustus 2026 yang ditandai dengan lonjakan harga jual ayam hidup (livebird) serta bibit ayam (Day-Old Chick/DOC) di pasar domestik.
Tren kenaikan harga ini menjadi sinyal kuat bagi perbaikan margin keuntungan para pelaku usaha di sektor poultry selama paruh kedua tahun 2026.
Data operasional menunjukkan rata-rata harga jual ayam hidup pada Agustus 2026 menyentuh angka Rp24.351 per kilogram.
Capaian tersebut mencerminkan pertumbuhan signifikan sebesar 30,5 persen secara bulanan (month-on-month) dan 30,1 persen secara tahunan (year-on-year).
Jika diakumulasikan sepanjang delapan bulan pertama tahun 2026, harga rata-rata livebird mencapai Rp20.652 per kilogram atau naik 15,1 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Kenaikan serupa juga terjadi pada komoditas DOC yang mencapai harga rata-rata Rp7.275 per ekor pada Agustus 2026.
Angka tersebut merepresentasikan lonjakan sebesar 37,6 persen secara bulanan dan 22,5 persen secara tahunan.
Secara kumulatif hingga Agustus 2026, harga rata-rata DOC berada di posisi Rp5.992 per ekor, meningkat 18,7 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Kondisi ini mengindikasikan dinamika pasokan dan permintaan yang semakin ketat di pasar, terutama mengingat kuartal III merupakan periode puncak panen industri perunggasan.
Secara historis, periode ini berkontribusi sekitar 30 persen terhadap total produksi tahunan nasional.
Investment Specialist PT Korea Investment and Sekuritas Indonesia (KISI), Ahmad Faris Mu’tashim, menyatakan bahwa sektor ini diproyeksikan tetap stabil seiring dengan solidnya permintaan ayam broiler.
“Kami melihat sektor poultry masih akan relatif stabil, melihat data permintaan ayam broiler yang masih solid. Katalis dari program MBG masih menjadi growth driver bagi industri poultry,” ujarnya dikutip dari PT Korea Investment and Sekuritas Indonesia (KISI), Jumat (18/9/2026).
Faris menambahkan bahwa program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi faktor krusial yang menopang permintaan ayam ras di masa depan selain faktor musiman.
Penguatan harga pasar ini turut berdampak pada emiten di sektor perunggasan, termasuk PT Janu Putra Sejahtera Tbk (AYAM).
Perusahaan tersebut saat ini tengah mengimplementasikan langkah strategis untuk memperkuat fundamental keuangan melalui upaya deleveraging atau pengurangan utang.
Langkah tersebut diharapkan mampu meningkatkan arus kas bebas (free cash flow) perusahaan dalam jangka pendek.
Namun, investor diminta untuk tetap memperhatikan pengembangan Janu Micro Ecosystem (JMC) sebagai penentu keberlanjutan strategi bisnis perusahaan jangka panjang.
Efektivitas platform JMC tersebut dinilai akan menjadi indikator utama dalam memberikan kontribusi nyata terhadap kinerja operasional maupun keuangan perusahaan ke depannya.



















