Jakarta – Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) kembali menembus level psikologis US$ 90 per barel pada perdagangan Rabu (30/9).
Kenaikan ini mencatatkan tren positif bulanan dengan akumulasi penguatan mencapai lebih dari 5 persen.
Sentimen utama yang memicu lonjakan harga tersebut adalah ketidakpastian yang masih menyelimuti negosiasi diplomatik antara Amerika Serikat dan Iran.
Pasar merespons dengan penuh kehati-hatian terhadap perkembangan geopolitik yang melibatkan jalur distribusi energi vital tersebut.
Juru bicara pemerintah Iran, Fatemeh Mohajerani, memberikan pernyataan resmi mengenai posisi negaranya dalam negosiasi yang sedang berlangsung.
“Teheran telah menerima proposal AS terkait pembukaan kembali Selat Hormuz, menyusul pengajuan persyaratan dari pihak Iran sendiri pada pekan lalu,” ujar Mohajerani sebagaimana dikutip Tradingeconomics, Rabu (30/9).
Meski tensi geopolitik masih menjadi perhatian utama, data pasokan minyak di Timur Tengah justru menunjukkan sinyal pemulihan yang signifikan.
Laporan terbaru mengindikasikan bahwa volume pengiriman minyak dari kawasan tersebut kini telah mendekati level sebelum terjadinya eskalasi konflik.
Arab Saudi telah berperan besar dalam normalisasi distribusi dengan memulai kembali pengiriman dari Yanbu.
Langkah ini diambil setelah otoritas setempat berhasil memulihkan operasi pada jalur pipa Timur-Barat atau East-West pipeline.
Infrastruktur tersebut berfungsi strategis sebagai rute alternatif bagi ekspor minyak mentah agar tidak bergantung sepenuhnya pada Selat Hormuz.
Data rata-rata ekspor minyak mentah Timur Tengah selama sepuluh hari terakhir tercatat mencapai 17,5 juta barel per hari.
Volume tersebut setara dengan 98 persen dari total kapasitas pengiriman sebelum perang pecah di kawasan tersebut.
Sementara itu, dinamika pasar energi di Amerika Serikat menunjukkan tren yang cukup variatif bagi para pelaku pasar.
American Petroleum Institute (API) mencatat adanya peningkatan pada cadangan minyak mentah serta stok bensin selama sepekan terakhir.
Namun, kondisi berbeda terlihat pada stok distilat yang justru mengalami penurunan dibandingkan periode sebelumnya.
Fokus investor kini beralih pada rilis data resmi dari Badan Informasi Energi AS atau Energy Information Administration (EIA).
Para analis pasar memproyeksikan akan terjadi penurunan pada total cadangan minyak mentah maupun produk olahannya dalam laporan resmi tersebut.
Pergerakan harga minyak mentah ke depan diperkirakan masih akan dipengaruhi oleh hasil negosiasi AS-Iran serta data inventaris energi AS.
Para pelaku pasar energi global terus memantau setiap perkembangan kebijakan yang mungkin berdampak pada stabilitas pasokan di pasar internasional.
Hingga hari ini, Kamis (1/10), fluktuasi harga komoditas ini masih menjadi instrumen utama dalam memantau sentimen ekonomi global yang tengah mengalami transisi pasokan.





















