Yield US Treasury 10 Tahun Melonjak 53 Bps Sepanjang September

Rayhan Akhari

Yield US Treasury 10 Tahun Melonjak 53 Bps Sepanjang September

Jakarta – Imbal hasil atau yield US Treasury tenor panjang mencatatkan kenaikan signifikan pada penutupan perdagangan Rabu (30/9/2026), meskipun data inflasi Amerika Serikat menunjukkan angka yang lebih rendah dari perkiraan pasar.

Pergerakan ini menandai akhir dari kuartal yang menantang bagi pasar obligasi global.

Yield US Treasury tenor 10 tahun tercatat naik sebesar 4,05 basis poin menjadi 5,296%.

Angka tersebut sempat menyentuh level 5,3061%, yang merupakan posisi tertinggi sejak Juni 2007, sebagaimana dikutip dari data Reuters.

Kenaikan tajam juga terjadi pada tenor 30 tahun yang meningkat 4,73 basis poin ke posisi 5,6413%.

Level tersebut merupakan angka tertinggi yang dicapai instrumen utang tersebut sejak Juni 2002.

Di sisi lain, yield US Treasury tenor dua tahun yang sangat sensitif terhadap kebijakan suku bunga Federal Reserve cenderung bergerak stagnan di angka 4,889%.

Kenaikan yield tenor panjang didorong oleh kekhawatiran pasar terhadap inflasi yang persisten serta lonjakan harga minyak akibat eskalasi konflik di Timur Tengah.

Secara kumulatif, yield US Treasury 10 tahun telah melonjak sekitar 87 basis poin sepanjang kuartal III-2026.

Pencapaian ini mencatatkan kenaikan kuartalan terbesar bagi surat utang pemerintah AS tersebut sejak kuartal II-2009.

Sementara itu, Departemen Perdagangan AS melaporkan indeks Personal Consumption Expenditures (PCE) naik 0,3% pada Agustus.

Inflasi inti atau core PCE tercatat berada di level 3% secara tahunan, angka yang lebih rendah dari estimasi awal.

Data inflasi yang moderat ini memicu spekulasi pasar mengenai kebijakan moneter The Fed ke depan.

Data LSEG menunjukkan peluang The Fed untuk mempertahankan suku bunga pada bulan Oktober kini meningkat menjadi 63%.

Namun, para analis menilai satu data inflasi tidak serta merta mengubah tren ekonomi makro secara keseluruhan.

“Pengalaman inflasi aktual dan tekanan keterjangkauan yang dirasakan konsumen serta dunia usaha masih ada. Satu data ini tidak mengubah tren yang selama ini terjadi,” ujar Luis Alvarado, Co-Head of Global Fixed Income Strategy Wells Fargo Investment Institute.

Alvarado menekankan bahwa The Fed kemungkinan besar masih akan mengambil langkah kebijakan lebih lanjut untuk menekan inflasi.

Fokus investor kini beralih pada laporan nonfarm payrolls bulan September yang dijadwalkan rilis pada Jumat mendatang.

Data ketenagakerjaan tersebut akan menjadi indikator krusial dalam menentukan arah kebijakan suku bunga di masa depan.

Sebelumnya, data swasta ADP menunjukkan penambahan 90.000 lapangan kerja baru pada September, melampaui ekspektasi konsensus sebesar 70.000.

Selain itu, pelebaran defisit perdagangan barang AS pada Agustus akibat lonjakan impor turut menjadi perhatian pelaku pasar.

Kondisi tersebut memberikan sinyal bahwa sektor perdagangan berpotensi menghambat pertumbuhan ekonomi AS pada kuartal III-2026.

Indikator selisih yield antara tenor dua tahun dan 10 tahun kini berada di level positif 40,4 basis poin.

Investor terus mencermati indikator ini untuk membaca proyeksi pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi.

Rekomendasi

Tinggalkan komentar