Pilih Dividen Interim atau SBN Ritel, Mana yang Lebih Menguntungkan?

Rayhan Akhari

Pilih Dividen Interim atau SBN Ritel, Mana yang Lebih Menguntungkan?

Jakarta – Musim pembagian dividen interim kini mulai mewarnai pasar modal Indonesia dengan sejumlah emiten menawarkan imbal hasil yang cukup kompetitif di tengah fluktuasi ekonomi global.

Beberapa emiten mencatatkan angka dividend yield yang mampu melampaui imbal hasil dari instrumen Surat Berharga Negara (SBN) ritel.

PT Golden Energy Mines Tbk (GEMS) menjadi salah satu emiten yang menarik perhatian dengan rencana pembagian dividen interim sebesar Rp 611,93 per saham.

Berdasarkan data penutupan pasar pada Rabu (7/10/2026), harga saham GEMS berada di level Rp 8.675 per lembar, sehingga estimasi dividend yield perusahaan mencapai 7,05%.

Selain GEMS, PT Teladan Prima Agro Tbk (TLDN) juga turut membagikan dividen interim sebesar Rp 20 per saham dengan estimasi yield mencapai 3,33% pada harga Rp 600 per saham.

Tidak ketinggalan, PT Plaza Indonesia Realty Tbk (PLIN) memberikan dividen interim sebesar Rp 76 per saham, yang mencerminkan dividend yield sekitar 3,03% dari harga penutupan Rp 2.510 per saham.

Perolehan angka tersebut tampak cukup menonjol jika dibandingkan dengan penawaran pemerintah melalui SBN ritel seri SBR015.

Pemerintah saat ini menawarkan kupon SBR015 sebesar 6,75% untuk tenor dua tahun dan 6,85% untuk tenor empat tahun dengan skema floating with floor.

Chief Economist & Head of Research Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, menyatakan bahwa meski beberapa saham menawarkan yield tinggi, investor harus tetap berhati-hati dalam membandingkan instrumen investasi.

Menurutnya, membandingkan investasi hanya berdasarkan besaran dividen tidaklah cukup karena perbedaan profil risiko yang sangat kontras antara saham dan surat utang negara.

“Jadi kalau hanya membandingkan yield, SBN ritel sebenarnya masih cukup kompetitif. Terlebih lagi, risiko keduanya berbeda. Kupon dan pokok SBN dijamin pemerintah, sementara pada saham investor tetap menghadapi volatilitas harga,” ujar Rully saat dihubungi, Rabu (7/10/2026).

Rully menekankan pentingnya bagi investor untuk meninjau fundamental perusahaan, mulai dari kemampuan arus kas hingga prospek keberlanjutan laba di masa depan.

Ia juga mengingatkan bahwa dividend yield sebesar 7% bukan jaminan total return akan mencapai angka yang sama.

Harga saham cenderung mengalami penyesuaian setelah tanggal pembagian dividen, yang kemudian akan kembali bergerak mengikuti sentimen pasar dan fundamental perusahaan.

Senada dengan pandangan tersebut, Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Nico Demus, menambahkan bahwa dividen tinggi hanya akan memberikan keuntungan maksimal jika didukung oleh sentimen pasar yang positif.

“Kalau misalkan pasar mendukung, sentimen globalnya mendukung, dalam negerinya mendukung, kami pikir dividend yield yang tinggi tentu akan menjadi sebuah salah satu kesempatan,” tutur Nico.

Ia memprediksi investor SBN ritel kemungkinan besar tidak akan terburu-buru memindahkan modalnya ke pasar saham.

Faktor ketidakpastian global, tekanan arus dana asing, serta pelemahan nilai tukar rupiah menjadi variabel yang tetap menahan minat investor untuk beralih ke instrumen berisiko tinggi.

Tingginya imbal hasil Treasury Amerika Serikat juga dinilai membuat instrumen obligasi tetap menjadi pilihan utama bagi investor yang mengutamakan keamanan modal.

Oleh karena itu, strategi akumulasi bertahap pada saham berfundamental kuat disarankan bagi investor yang ingin masuk ke pasar saham di tengah kondisi saat ini.

Rekomendasi

Tinggalkan komentar