Jakarta – PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) resmi memangkas waktu layanan truk di pelabuhan secara signifikan melalui penerapan sistem sterilisasi penuh.
Kebijakan ini mulai diberlakukan di enam pelabuhan utama, yakni Merak, Bakauheni, Ketapang, Gilimanuk, Kayangan, dan Lembar sejak Rabu (5/8).
Pemanfaatan teknologi One Gate System dan Automatic Gate System menjadi kunci utama dalam mempercepat arus kendaraan.
Sistem digital tersebut terbukti mampu memangkas durasi pelayanan truk dari yang semula 10-15 menit menjadi hanya 1-2 menit.
Direktur Utama ASDP, Heru Widodo, menegaskan bahwa langkah ini merupakan bagian dari transformasi budaya operasional perusahaan.
“Sterilisasi pelabuhan bukan sekadar penataan kawasan, melainkan perubahan budaya operasional yang memastikan setiap aktivitas di kawasan pelabuhan berlangsung secara aman, tertib, dan sesuai standar,” ujar Heru dalam keterangan tertulis, Jumat (7/8).
Ia meyakini bahwa pelabuhan yang steril akan meningkatkan kenyamanan perjalanan serta memperkuat kepercayaan masyarakat terhadap layanan penyeberangan.
Implementasi penuh ini dilakukan setelah melalui masa transisi dan soft launching yang dimulai sejak 20 Juli 2026.
Kepala Balai Pengelola Transportasi Darat (BPTD) Kelas II Banten, Eko Indrayanto, menilai kebijakan ini sebagai tonggak penting dalam penegakan Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 91 Tahun 2021.
“Setelah kurang lebih lima tahun sejak PM Nomor 91 Tahun 2021 diterbitkan, implementasi ini akhirnya dapat dilaksanakan,” ungkap Eko.
Di lapangan, setiap pelabuhan menerapkan metode sterilisasi yang disesuaikan dengan kebutuhan operasional masing-masing.
Pelabuhan Merak fokus pada penertiban aktivitas dan pendataan ulang pihak yang beroperasi di area pelabuhan.
Sementara itu, Pelabuhan Kayangan dan Lembar telah mengadopsi teknologi pengenalan wajah atau face recognition untuk pengendalian akses.
Corporate Secretary ASDP, Windy Andale, menyatakan bahwa keberhasilan program ini merupakan buah dari kolaborasi lintas instansi.
“Sterilisasi merupakan langkah bersama dalam membangun budaya operasional yang lebih disiplin, profesional, dan berorientasi pada keselamatan,” pungkas Windy.























