Bukit Darmo Property Kebut Pembangunan Hotel Hyatt Centric Target 2028

persen

Bukit Darmo Property Kebut Pembangunan Hotel Hyatt Centric Target 2028

Jakarta – PT Bukit Darmo Property Tbk (BKDP) secara resmi menetapkan strategi bisnis jangka panjang dengan memprioritaskan penyelesaian proyek hotel Hyatt Centric West Surabaya serta optimalisasi aset komersial yang sudah beroperasi.

Langkah strategis ini dilakukan untuk membangun fondasi recurring income atau pendapatan berulang yang lebih stabil bagi perusahaan.

Corporate Secretary Bukit Darmo Property, Brasada Chandra, dalam keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Kamis (7/8/2026), menegaskan komitmen perusahaan dalam mengelola portofolio properti.

“Perusahaan tetap berkomitmen mengembangkan portofolio properti yang dimiliki, dengan menjadikan aset berjalan sebagai sumber pendapatan utama sekaligus menyiapkan proyek hospitality sebagai penggerak pertumbuhan berikutnya,” ujar Brasada.

Hingga kuartal pertama tahun 2026, struktur pendapatan BKDP masih sangat bergantung pada sektor pusat perbelanjaan.

FairwayNine Mall tercatat sebagai kontributor terbesar dengan menyumbang sekitar 92% dari total pendapatan perusahaan.

Pusat perbelanjaan tersebut saat ini memiliki tingkat keterisian atau occupancy rate sebesar 58%.

Area tersebut dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan ekonomi, mencakup ritel, sektor makanan dan minuman (F&B), fasilitas pendidikan, area permainan, hingga ruang ibadah.

Di sektor perkantoran, gedung Nine Boulevard (9BLV) memberikan kontribusi pendapatan sebesar 7% dengan tingkat okupansi mencapai 52%.

Sementara itu, aset hunian The Adhiwangsa menyumbang 1% terhadap total pendapatan dengan tingkat hunian yang cukup stabil di angka 75%.

Di sisi lain, proyek Hyatt Centric West Surabaya saat ini masih dalam tahap konstruksi sehingga belum memberikan dampak finansial secara langsung.

Proyek ini digarap dengan menggandeng PT Hyatt Indonesia sebagai mitra pengelola hotel.

Manajemen menargetkan hotel tersebut dapat memulai operasional melalui soft opening pada Juni 2028.

Brasada berharap kehadiran jaringan hotel internasional ini akan menjadi akselerator kinerja keuangan perusahaan di masa depan.

Pengembangan sektor perhotelan dianggap krusial untuk mendiversifikasi basis pendapatan yang selama ini didominasi oleh sektor komersial.

Terkait kebijakan aset, manajemen memastikan tidak ada rencana untuk menjual, mengalihkan, atau mengubah fungsi aset properti investasi dalam waktu dekat.

Perusahaan juga menegaskan tidak terdapat perubahan material pada aspek hukum maupun perizinan atas seluruh aset yang dimiliki.

Mengenai aset berupa sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB) No. 5956/Pradahkalikendal seluas 12.816 meter persegi yang dijadikan jaminan pinjaman kepada Komisaris Utama, manajemen memastikan hal tersebut tidak mengganggu operasional.

“Pembebanan aset tersebut tidak berdampak terhadap nilai maupun pemanfaatan properti dalam kegiatan operasional sehari-hari,” tulis manajemen dalam keterbukaan informasi BEI, Kamis (7/8/2026).

BKDP juga menyatakan tidak memiliki rencana diversifikasi bisnis di luar sektor properti saat ini maupun keterlibatan proyek bersama instansi pemerintah.

Fokus perusahaan tetap pada dua agenda utama, yakni penyelesaian Hyatt Centric West Surabaya dan peningkatan produktivitas aset eksisting.

Di pasar modal, saham BKDP saat ini masih dalam status suspensi oleh Bursa Efek Indonesia sejak 28 Juli 2026.

Penghentian sementara perdagangan dilakukan menyusul lonjakan harga saham yang signifikan sebesar 119,48% dalam kurun waktu 20 hari.

Terakhir kali diperdagangkan, harga saham BKDP berada di level Rp 169 per lembar setelah mengalami kenaikan harian sebesar 15,75%.

Rekomendasi

Tinggalkan komentar