Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menunjukkan sinyal pemulihan melalui aksi beli investor asing pada saham-saham berkapitalisasi besar di sektor perbankan, meskipun pasar modal domestik masih berada di bawah tekanan hingga Senin (7/9/2026).
Data perdagangan per Jumat (4/9/2026) mencatat IHSG terkoreksi 0,47 persen ke level 6.636,475.
Secara akumulatif sepanjang tahun ini (year to date), IHSG telah mencatatkan penurunan sebesar 23,25 persen.
Tekanan pasar tersebut diperburuk oleh aksi jual bersih (net sell) investor asing yang mencapai angka Rp 68,05 triliun.
Kendati demikian, sejumlah perusahaan sekuritas tetap optimistis mengenai ruang penguatan indeks hingga pengujung tahun 2026.
VP Equity Retail Kiwoom Sekuritas Indonesia, Oktavianus Audi, menegaskan bahwa koreksi yang terjadi saat ini lebih didorong oleh sentimen pasar dan pergerakan arus dana, bukan karena pelemahan sisi fundamental emiten.
“Bukan pelemahan fundamental,” ujar Audi sebagaimana dikutip dari laporan resmi perusahaan, Minggu (6/9/2026).
Ia menambahkan bahwa pertumbuhan ekonomi kuartal II-2026 yang menyentuh angka 5,29 persen secara tahunan menjadi penopang utama pasar.
Selain itu, kebijakan suku bunga acuan Bank Indonesia di level 5,75 persen masih memberikan ruang untuk pelonggaran moneter selama nilai tukar rupiah tetap terjaga.
Kiwoom Sekuritas Indonesia mempertahankan target IHSG di rentang 7.250 hingga 7.700.
Audi menyebut level 7.000 sebagai titik pijakan krusial bagi indeks sebelum melanjutkan tren penguatan ke target yang lebih tinggi.
Sentimen positif lainnya datang dari potensi evaluasi MSCI pada November mendatang yang diharapkan mampu memicu arus masuk dana asing.
Senada dengan optimisme tersebut, Chief Economist & Head of Research Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Wisnubroto, mengamati bahwa investor asing mulai kembali melakukan akumulasi saham, khususnya pada kelompok bank berkapitalisasi besar (big caps).
Stabilnya pergerakan nilai tukar rupiah disebut menjadi salah satu faktor yang memperbaiki sentimen di pasar saham.
Mirae Asset menetapkan target dasar IHSG di akhir tahun 2026 pada level 6.800, dengan skenario optimistis mencapai 7.800 dan skenario pesimistis di 5.500.
RHB Sekuritas Indonesia turut mempertahankan target dasar indeks di angka 7.300.
Bahkan, dalam skenario optimistis, RHB memproyeksikan IHSG berpotensi menyentuh level 8.100 dengan catatan adanya perbaikan kebijakan serta kondisi global yang lebih kondusif.
Namun, pandangan berbeda disampaikan oleh J.P. Morgan Sekuritas yang melakukan revisi penurunan target IHSG akhir 2026 menjadi 7.000 dari sebelumnya 9.100.
Head of Equity Research J.P. Morgan Indonesia, Benny Kurniawan, mencatat bahwa laba emiten di Indonesia tumbuh sekitar 6 persen pada semester I-2026.
Meski demikian, pertumbuhan laba tersebut diprediksi akan mengalami perlambatan selama semester II-2026.
Keberlanjutan akumulasi asing pada saham-saham perbankan besar tetap menjadi kunci bagi pemulihan IHSG di sisa tahun ini.


















