IHSG Rawan Terkoreksi, Simak Proyeksi Analis di Awal Pekan Ini

persen

IHSG Rawan Terkoreksi, Simak Proyeksi Analis di Awal Pekan Ini

Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi akan bergerak dalam rentang variatif atau mixed dengan kecenderungan melemah terbatas pada perdagangan hari ini, Senin (7/9/2026).

Sentimen utama yang membayangi pergerakan pasar modal domestik saat ini adalah eskalasi ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran.

Konflik tersebut dikhawatirkan akan mengganggu jalur distribusi energi vital melalui Selat Hormuz.

Gangguan suplai energi berpotensi memicu lonjakan harga minyak mentah dunia secara signifikan.

Kenaikan harga komoditas energi ini secara langsung meningkatkan risiko inflasi global yang dapat menekan sentimen investor di pasar ekuitas.

VP Equity Retail Kiwoom Sekuritas Indonesia, Oktavianus Audi, menyatakan bahwa faktor eksternal tersebut menjadi risiko utama bagi indeks.

“Risiko global masih membayangi, sehingga IHSG berpotensi melemah terbatas,” ujar Audi, sebagaimana dikutip dari pernyataan resminya, Minggu (6/9/2026).

Pihaknya memproyeksikan IHSG akan bergerak pada rentang support di level 6.575 dan resistance di level 6.718.

Sebelumnya, indeks telah mengalami koreksi sebesar 0,47 persen ke posisi 6.636,47 pada penutupan perdagangan Jumat (4/9/2026).

Selain isu geopolitik, pelaku pasar juga menaruh perhatian pada rilis data cadangan devisa Indonesia periode Agustus 2026.

Audi memperkirakan cadangan devisa Indonesia masih akan mencatatkan surplus meskipun menunjukkan tren penurunan sejak awal tahun.

Respons pasar terhadap data cadangan devisa tersebut diperkirakan akan cenderung moderat.

Di sisi lain, stabilitas nilai tukar rupiah menjadi bantalan penting bagi pasar saham domestik terhadap tekanan global.

Founder Republik Investor, Hendra Wardana, menyoroti penguatan rupiah ke level Rp 17.642 per dolar AS pada akhir pekan lalu.

Menurut Hendra, penguatan mata uang Garuda ini membuka ruang bagi investor untuk kembali mengakumulasi aset saham.

“Kondisi pasar relatif lebih terjaga selama rupiah mampu bertahan dan tidak kembali tertekan hingga mendekati level Rp 18.000 per dolar AS,” ungkap Hendra.

Data aliran dana asing juga memberikan sinyal positif bagi pasar saham Indonesia.

Tercatat investor asing masih membukukan net buy sekitar Rp 1,6 triliun dalam kurun waktu satu pekan terakhir.

Hal ini mengindikasikan minat investor terhadap aset saham domestik mulai pulih di tengah volatilitas global.

Hendra memproyeksikan IHSG akan menguji area support pada kisaran 6.580 hingga 6.600.

Sementara itu, level resistance diprediksi berada pada rentang 6.680 hingga 6.700.

“Selama bertahan di atas 6.580, tren jangka pendek masih sehat,” tegas Hendra.

Investor tetap disarankan untuk tetap waspada terhadap perkembangan berita geopolitik yang sewaktu-waktu dapat memicu volatilitas pasar.

Rekomendasi

Tinggalkan komentar