Jakarta – PT Astra Graphia Tbk (ASGR) memutuskan untuk membagikan dividen final senilai Rp 284,59 miliar atau setara Rp 211 per saham kepada para pemegang sahamnya. Keputusan ini menjadikan total dividen tunai tahun buku 2025 mencapai Rp 241 per saham, setelah memperhitungkan dividen interim yang telah dibayarkan sebelumnya.
Nilai dividen yang dibagikan tersebut melampaui capaian laba bersih perusahaan tahun 2025 yang tercatat sebesar Rp 270,61 miliar. Artinya, perusahaan menetapkan rasio pembayaran dividen atau payout ratio di atas 100 persen.
Head of Research KISI Sekuritas, Muhammad Wafi, menilai kebijakan pembagian dividen tersebut sangat agresif namun masih berada dalam batasan wajar. Menurutnya, rasio di atas 100 persen ini mencerminkan likuiditas kas internal perusahaan yang sangat kuat, disertai dengan minimnya urgensi untuk melakukan pengeluaran modal atau capex yang ekspansif dalam jangka pendek.
Meski menawarkan dividend yield yang berpotensi mencapai dua digit dan sangat menarik bagi investor, Wafi mengingatkan pentingnya mewaspadai risiko dividend trap yang kerap muncul menjelang tanggal ex-date. Ia juga menekankan bahwa kebijakan pembagian dividen dalam jumlah besar seperti saat ini kemungkinan sulit dipertahankan secara konsisten di masa depan. Hal ini dikarenakan sebagian dana bersumber dari saldo laba ditahan yang bersifat sekali bayar atau one-off.
Secara fundamental, ASGR saat ini dinilai tengah berada dalam fase transisi bisnis. Segmen bisnis tradisional diprediksi akan cenderung stagnan, sementara masa depan perusahaan akan sangat bergantung pada pertumbuhan ekspansi di segmen layanan solusi teknologi informasi.
Senada dengan Wafi, Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia, Adrian Djie, berpendapat bahwa langkah manajemen ini merupakan upaya untuk mengoptimalkan imbal hasil bagi pemegang saham tanpa mengganggu kelangsungan operasional perusahaan. Ia menilai posisi saldo laba ditahan ASGR yang mencapai Rp 1,89 triliun masih sangat aman untuk mendukung aksi korporasi tersebut.
Adrian turut menyoroti pergeseran fokus bisnis ASGR. Layanan IT seperti managed service dan cloud diproyeksikan bakal menjadi motor penggerak pertumbuhan utama, mengingat segmen solusi dokumen menghadapi tekanan jangka panjang akibat masifnya arus digitalisasi.
Terkait prospek saham, Wafi memberikan rekomendasi beli untuk ASGR dengan target harga Rp 2.100 per saham. Di sisi lain, Adrian melihat saham ASGR kini telah diperdagangkan di atas rata-rata price to earnings ratio selama tiga tahun terakhir. Untuk jangka pendek, Adrian memprediksi pergerakan harga saham ASGR berpotensi menuju level Rp 1.905 dengan support di kisaran Rp 1.825.





















