BEI Targetkan 1.100 Emiten pada 2030 di Tengah Tren IPO

Ikhwan Setiawan

BEI Targetkan 1.100 Emiten pada 2030 di Tengah Tren IPO

Jakarta – Bursa Efek Indonesia (BEI) menetapkan sasaran strategis untuk menembus jajaran 10 bursa terbesar di dunia berdasarkan kapitalisasi pasar pada tahun 2030 mendatang.

Ambisi tersebut disokong oleh target peningkatan jumlah perusahaan tercatat hingga mencapai 1.100 emiten dalam empat tahun ke depan.

Saat ini, jumlah emiten yang melantai di BEI tercatat sebanyak 963 perusahaan.

Artinya, otoritas bursa memerlukan setidaknya 137 perusahaan baru atau rata-rata 35 emiten setiap tahunnya hingga 2030 untuk merealisasikan target tersebut.

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Hasan Fawzi, menegaskan bahwa target tersebut tetap realistis untuk dikejar.

Menurut dia, penambahan perusahaan berkualitas akan mendorong pertumbuhan kapitalisasi pasar yang lebih masif.

“Indonesia saat ini sudah berada pada posisi 20 besar dalam besaran kapitalisasi pasar dan nilai transaksi,” ujar Hasan, dikutip dari keterangan resmi, Senin (3/8).

Ia menambahkan, pertumbuhan jumlah emiten harus dibarengi dengan pendalaman pasar serta penguatan tata kelola perusahaan.

Data perdagangan per Senin (3/8) pukul 09.50 WIB menunjukkan kapitalisasi pasar BEI berada di angka Rp 10.971 triliun.

Capaian ini masih berada di bawah rekor kapitalisasi pasar yang sempat menyentuh Rp 15.000 triliun pada tahun 2025 lalu.

Tantangan jangka pendek pun terlihat jelas dari melambatnya aktivitas penawaran umum perdana saham (IPO).

Hingga awal Agustus 2026, baru enam perusahaan yang mencatatkan saham perdana, jauh di bawah capaian 18 emiten pada periode yang sama tahun lalu.

Managing Director of Research Samuel Sekuritas Indonesia, Harry Su, menilai minat perusahaan untuk melantai di bursa sebenarnya masih cukup tinggi.

Namun, banyak calon emiten memilih menunda aksi korporasi mereka demi mendapatkan momentum yang tepat.

“Faktor kondisi pasar, kesiapan kinerja perusahaan, valuasi, serta momentum industri juga menjadi pertimbangan penting dalam menentukan waktu pelaksanaan IPO,” ujarnya, dikutip Senin (3/8).

Pendapat senada disampaikan Direktur Trimegah Sekuritas, Anung Rony Hascaryo.

Menurutnya, lesunya IPO saat ini murni dipengaruhi oleh kondisi pasar yang menantang, bukan karena masalah internal di bursa.

“Saya rasa konteksnya bukan di bursanya. Memang kondisi pasar saham sedang cukup menantang,” kata Anung, dikutip Senin (3/8).

Selain masalah IPO, BEI juga menghadapi tekanan dari lembaga pengindeks global seperti MSCI dan FTSE Russell.

Indonesia saat ini berada dalam pemantauan ketat terkait isu transparansi, struktur kepemilikan saham, serta pola perdagangan yang terkonsentrasi.

Risiko penurunan status dari emerging market menjadi frontier market masih membayangi pasar modal domestik.

MSCI bahkan telah membekukan proses rebalancing saham Indonesia pada peninjauan Agustus 2026.

Lembaga tersebut menyatakan akan membuka konsultasi penurunan status jika tidak ada perbaikan memadai hingga peninjauan pada November 2026.

Fokus evaluasi MSCI mencakup akurasi perhitungan free float dan kualitas pembentukan harga saham.

Keberhasilan BEI mencapai target 1.100 emiten tidak hanya bergantung pada kuantitas IPO, tetapi juga pada efektivitas reformasi pasar guna menjaga kepercayaan investor global.

Rekomendasi

Tinggalkan komentar