Bursa Asia Menguat, Harga Minyak Turun Redakan Kekhawatiran Inflasi

Kholida Rahman

Bursa Asia Menguat, Harga Minyak Turun Redakan Kekhawatiran Inflasi

Jakarta – Mayoritas bursa saham di kawasan Asia mencatatkan penguatan signifikan pada perdagangan Jumat (18/9/2026) pagi.

Sentimen positif ini dipicu oleh tren penurunan harga komoditas energi global yang meredakan kekhawatiran pelaku pasar terhadap lonjakan inflasi.

Indeks Nikkei 225 di Jepang memimpin dengan kenaikan 534,39 poin atau 0,82% ke level 64.681,88 pada pukul 08.19 WIB.

Indeks Kospi di Korea Selatan turut mencatatkan lonjakan sebesar 130,28 poin atau 1,97%, membawanya ke posisi 6.847,87.

Di pasar Taiwan, indeks Taiex menguat 640,24 poin atau 1,37% menjadi 46.957,25.

Sementara itu, indeks Hang Seng di Hong Kong naik 119,56 poin atau 0,49% ke level 24.723,85.

Indeks ASX 200 di Australia juga bergerak di zona hijau dengan kenaikan tipis 19,78 poin atau 0,23% ke 8.752,20.

Kinerja positif serupa ditunjukkan oleh FTSE Malaysia yang tumbuh 2,97 poin atau 0,18% ke posisi 1.677,83.

Namun, tren penguatan tersebut tidak diikuti oleh Straits Times di Singapura yang justru melemah 25,86 poin atau 0,46% ke 5.533,74.

Kenaikan indeks di Asia ini mengikuti jejak pasar saham Amerika Serikat, Wall Street, yang merespons positif data energi terbaru.

Harga minyak mentah Brent terpantau mengalami penurunan selama tiga hari berturut-turut hingga Jumat pagi.

Komoditas tersebut kini diperdagangkan sedikit di bawah level US$ 104 per barel.

Penurunan harga ini terjadi seiring dengan mulai meredanya kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan minyak global.

Saat ini, para pelaku pasar mulai mengalihkan fokus mereka pada kelanjutan proses diplomasi terkait konflik Amerika Serikat dan Iran.

Harga energi yang lebih terjangkau diproyeksikan mampu mengurangi tekanan inflasi secara signifikan.

Kondisi ekonomi makro ini dinilai memberikan ruang gerak bagi bank sentral di berbagai negara untuk meninjau kembali dampak kebijakan moneter ketat mereka.

Dinamika ini memberikan dorongan moral bagi investor untuk kembali memburu aset berisiko seperti saham dan obligasi.

“Sentimen telah meningkat, sebagian karena harga minyak mentah turun, sehingga mengurangi tekanan pada yield obligasi,” ujar analis Forex.com, Fawad Razaqzada.

Pernyataan tersebut menyoroti bagaimana kestabilan harga komoditas menjadi kunci utama dalam menjaga stabilitas pasar keuangan global saat ini.

Para investor kini tetap memantau perkembangan geopolitik yang dapat memengaruhi fluktuasi harga energi di masa depan.

Stabilitas pada sektor energi diharapkan dapat menjadi katalis jangka panjang bagi pemulihan indeks saham di kawasan Asia.

Rekomendasi

Tinggalkan komentar