Wall Street Dibuka Menguat Saat Harga Minyak Turun Meredam Inflasi

Kholida Rahman

Wall Street Dibuka Menguat Saat Harga Minyak Turun Meredam Inflasi

New York – Bursa saham Amerika Serikat mencatatkan penguatan signifikan pada perdagangan Kamis (17/9/2026) waktu setempat.

Lonjakan ini terjadi seiring dengan meredanya tekanan inflasi setelah harga minyak mentah global mengalami penurunan tajam.

Indeks Dow Jones Industrial Average ditutup menguat 420,6 poin atau 0,82% ke level 51.882,53.

Indeks S&P 500 mencatatkan kenaikan sebesar 79,6 poin atau 1,05% hingga mencapai posisi 7.631,44.

Sementara itu, Nasdaq Composite melesat lebih tinggi dengan kenaikan 399,4 poin atau 1,54% ke level 26.377,864.

Para investor kini terlihat lebih berani mengambil risiko setelah keputusan kenaikan suku bunga oleh Federal Reserve memberikan kejelasan arah kebijakan moneter.

Sentimen positif juga datang dari sektor teknologi, di mana saham raksasa seperti Nvidia dan Amazon sempat menguat hampir 2% sebelum pembukaan pasar.

Penurunan harga minyak mentah menjadi katalis utama dalam pemulihan pasar saham kali ini.

Harga minyak mentah Brent terpantau turun lebih dari 3% ke level US$ 102,28 per barel.

Secara bersamaan, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) kembali diperdagangkan di bawah level psikologis US$ 100 per barel.

Penurunan harga energi ini memberikan harapan bagi pasar bahwa tekanan terhadap inflasi dapat segera berkurang.

Namun, pengamat pasar tetap mewaspadai risiko jangka panjang yang masih membayangi ekonomi global.

Chief Investment Officer Northlight Asset Management, Chris Zaccarelli, menyatakan bahwa inflasi saat ini telah berada di atas target selama lebih dari lima tahun.

Ia menambahkan, meskipun gangguan energi akibat ketegangan di Timur Tengah bersifat sementara, dampaknya terhadap stabilitas harga tetap menjadi perhatian serius.

Ketegangan geopolitik di Yaman dan gangguan pada jalur pipa minyak di Arab Saudi masih memicu kekhawatiran terhadap pasokan energi global.

Di sisi lain, pasar kini tengah mencermati kebijakan bank sentral di bawah kepemimpinan Ketua The Fed, Kevin Warsh.

The Fed baru saja menaikkan suku bunga acuan ke kisaran 3,75% hingga 4% sebagai langkah tegas menekan laju inflasi.

Meskipun kenaikan suku bunga biasanya membebani aset berisiko, pelaku pasar menilai langkah ini mampu mengurangi ketidakpastian ekonomi.

Namun, The Fed tetap membuka peluang bagi kenaikan suku bunga lanjutan dalam beberapa bulan ke depan.

Data CME FedWatch mengindikasikan probabilitas kenaikan suku bunga pada pertemuan Oktober mendatang kini mencapai 53%.

Angka tersebut mencerminkan ekspektasi pasar yang meningkat dibandingkan hari sebelumnya yang berada di level 44%.

Penurunan imbal hasil (yield) obligasi US Treasury 10 tahun turut memberikan dorongan bagi pasar saham.

Yield yang lebih rendah membuat aset berisiko seperti saham kembali menjadi pilihan utama bagi para manajer investasi.

Terlepas dari optimisme pasar, investor tetap memperhatikan tren historis bulan September yang kerap menjadi periode menantang bagi Wall Street.

Sepanjang September 2026, indeks S&P 500 tercatat masih mengalami kontraksi sekitar 1,7%.

Kinerja emiten individu juga menunjukkan dinamika yang beragam di tengah sentimen pasar yang membaik.

Saham perusahaan seperti Nebius dan IREN mencatatkan kenaikan masing-masing 10% dan 6% dalam perdagangan awal.

Sebaliknya, saham Fluence Energy justru merosot tajam lebih dari 22% akibat pemangkasan proyeksi pendapatan tahun fiskal 2026.

Secara keseluruhan, pelaku pasar masih berada dalam fase kewaspadaan tinggi terhadap risiko inflasi, arah kebijakan suku bunga, serta dinamika geopolitik.

Rekomendasi

Tinggalkan komentar