Padang – Cuaca buruk yang melanda wilayah pesisir Kota Padang membuat nelayan di Pantai Purus tak bisa melaut selama sepekan terakhir.
Kondisi ini berdampak signifikan pada pendapatan mereka.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebelumnya telah mengeluarkan peringatan dini potensi cuaca ekstrem seiring musim penghujan di Sumatra Barat.
Ketua Pengurus Nelayan Pantai Purus, Nursam Oyong (63), mengungkapkan bahwa aktivitas melaut terhenti total selama seminggu. “Baru hari ini kami bisa turun ke laut lagi, tapi cuacanya masih belum menentu,” ujarnya, Rabu (12/11/2025).
Nursam menambahkan, dalam tiga hari terakhir, air laut sempat naik ke darat akibat pasang tinggi. Angin kencang dan arus kuat membuat sebagian nelayan yang nekat melaut terpaksa kembali tanpa hasil tangkapan.
Pendapatan nelayan sangat bergantung pada hasil tangkapan. Jika cuaca baik, mereka bisa memperoleh 5 hingga 10 kilogram ikan sekali melaut. Namun, saat cuaca buruk, penghasilan menurun drastis.
Nelayan lainnya, Aldi Saputra (41), juga merasakan dampak serupa. “Sudah hampir seminggu tidak bisa melaut karena ombak besar,” katanya.
Aldi menjelaskan, mayoritas masyarakat menggantungkan hidup pada hasil tangkapan ikan dan tidak memiliki pekerjaan sampingan.
Kondisi ini memaksa sebagian nelayan nekat melaut meski cuaca buruk. “Rata-rata nelayan di sini tidak punya kerja sampingan, jadi mau tidak mau harus tetap melaut demi keluarga di rumah,” ungkap Aldi.
Cuaca buruk ini berdampak pada perekonomian nelayan. Penghasilan yang biasanya mencapai Rp1 juta per minggu, kini turun menjadi Rp400 ribu karena tidak bisa melaut.




















