Jakarta – PT Timah Tbk (TINS) kini tengah memasuki fase siklus super laba yang didorong oleh keberhasilan pemerintah dalam menertibkan praktik pertambangan timah ilegal.
Langkah penegakan hukum tersebut dinilai menjadi katalis utama dalam memulihkan pasokan bijih timah ke jalur resmi perusahaan.
Dampaknya, volume penjualan dan profitabilitas emiten pelat merah ini melonjak secara signifikan pada paruh pertama tahun 2026.
Analis Ciptadana Sekuritas Asia, Ryan Santoso, mencatat bahwa TINS berhasil membukukan laba bersih sebesar Rp2,7 triliun pada semester I-2026.
Angka tersebut mencerminkan lonjakan tajam sebesar 805% secara tahunan (year-on-year/YoY) dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Pada kuartal kedua 2026, perseroan membukukan laba bersih Rp1,2 triliun, yang tetap tumbuh 563% YoY meski secara kuartalan terkoreksi 19%.
Capaian semester pertama ini tergolong impresif karena telah memenuhi 90% dari total target tahunan yang ditetapkan Ciptadana.
Menurut Ryan, performa gemilang ini didorong oleh kombinasi kenaikan volume produksi dan harga jual yang optimal.
Penertiban tambang liar secara berkelanjutan memastikan aliran bahan baku yang legal ke fasilitas peleburan milik TINS.
Produksi bijih timah perusahaan tercatat tumbuh 75% YoY menjadi 12.232 ton Sn selama semester I-2026.
Sejalan dengan itu, volume penjualan logam timah melesat 84% YoY hingga mencapai 10.984 ton.
Pendapatan konsolidasi perseroan pun melonjak 147% YoY menjadi Rp10,4 triliun, dengan rata-rata harga jual di angka USD 49.716 per ton.
Pasar ekspor tercatat mendominasi perolehan omzet dengan kontribusi mencapai 97% dari total penjualan logam timah.
Proyeksi pendapatan TINS ke depan diprediksi tetap cerah, didukung oleh tingginya permintaan dari sektor semikonduktor dan elektrifikasi.
Selain itu, penurunan persediaan timah di bursa London Metal Exchange (LME) sejak Juli turut menjaga stabilitas harga di pasar global.
Efisiensi operasional juga menjadi kunci, di mana marjin laba kotor berhasil mencapai level 39,0% pada paruh pertama tahun ini.
Manajemen perusahaan dinilai mampu menjaga struktur biaya operasional dengan sangat ketat di tengah lonjakan volume produksi.
“Manajemen mengonfirmasi dalam pertemuan terbaru kami bahwa biaya bahan bakar semester I-2026 berhasil ditahan tetap datar melalui harga pemasok yang dikunci, yang turut menopang EBITDA sebesar Rp3,8 triliun,” ujar Ryan dalam risetnya, Kamis (29/7/2026).
Senada dengan hal tersebut, Analis Bahana Sekuritas, Jeremy Mikael, menegaskan bahwa penegakan hukum telah mengarahkan kembali pasokan bijih timah ke rantai formal.
Jeremy memproyeksikan volume penjualan logam timah TINS akan terus meningkat hingga mencapai 23,3 ribu ton sepanjang tahun 2026.
Pertumbuhan tersebut diperkirakan berlanjut menjadi 27,7 ribu ton pada 2027 dan 32,2 ribu ton pada 2028.
Dengan harga timah yang diprediksi stabil di kisaran USD 45.000 – USD 50.000 per ton, TINS diyakini akan terus mendulang laba besar.
Pendapatan TINS diproyeksikan tumbuh dengan Compound Annual Growth Rate (CAGR) sebesar 32% selama periode 2025–2028.
Sementara itu, laba bersih diprediksi tumbuh dengan CAGR 55% hingga menyentuh Rp4,7 triliun pada akhir tahun 2026.
Posisi TINS sebagai bagian dari holding BUMN pertambangan MIND ID di bawah naungan Danantara semakin memperkuat daya tarik bagi investor.
Kinerja arus kas yang kuat juga membuka peluang bagi perusahaan untuk meningkatkan rasio pembayaran dividen kepada pemegang saham.
“Generasi arus kas yang lebih kuat serta posisi TINS di dalam MIND ID dan Danantara juga dapat mendukung rasio pembayaran dividen yang lebih tinggi, menghasilkan perkiraan rata-rata dividend yield sebesar 13,4% selama tahun fiskal 2026-2028,” ungkap Jeremy dalam risetnya, Jumat (24/7/2026).
Merespons prospek tersebut, Ryan mempertahankan rekomendasi Buy dengan target harga Rp 4.600 per saham.
Jeremy turut memberikan rekomendasi Buy dengan target harga di level Rp 4.400 per saham.
























