Harga Batubara Menguat, Kinerja Emiten Tambang Diproyeksi Tetap Positif

Ikhwan Setiawan

Harga Batubara Menguat, Kinerja Emiten Tambang Diproyeksi Tetap Positif

Jakarta – Sektor pertambangan batubara nasional mencatatkan performa keuangan yang impresif sepanjang semester I-2026.

Peningkatan harga jual rata-rata (ASP) menjadi katalis utama di balik penguatan pendapatan dan laba bersih para emiten di tengah tantangan volatilitas komoditas global.

PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) menjadi salah satu perusahaan yang berhasil mencatatkan pertumbuhan signifikan.

Perusahaan ini membukukan pendapatan sebesar US$ 1 miliar pada periode enam bulan pertama tahun 2026.

Angka tersebut mencerminkan kenaikan sebesar 9% secara tahunan (year on year/YoY) dibandingkan periode yang sama tahun 2025.

Pertumbuhan pendapatan ITMG didorong oleh kenaikan ASP yang mencapai US$ 81 per ton, naik dari US$ 78 per ton pada tahun sebelumnya.

Laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk tercatat sebesar US$ 106 juta, atau melonjak 16% dibandingkan semester I-2025.

Wakil Direktur Utama Indo Tambangraya Megah, Waramit, mengungkapkan bahwa volume penjualan perusahaan menyentuh angka 12,3 juta ton selama semester I-2026.

“Permintaan batubara termal secara umum diperkirakan tetap ditopang oleh kebutuhan listrik, terutama di tengah potensi peningkatan konsumsi energi akibat gelombang panas serta adanya ketidakpastian pasokan LNG,” ujarnya dikutip dari pernyataan resmi perusahaan, Senin (14/9/2026).

Waramit menambahkan, meskipun pasar masih memiliki faktor pendukung, industri tetap harus mewaspadai tingginya pasokan global.

Tren positif serupa juga dialami oleh PT Bukit Asam Tbk (PTBA).

Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko Bukit Asam, Una Lindasari, menyatakan bahwa kenaikan laba bersih perusahaan mencapai 218,10% YoY, dari Rp 822,04 miliar menjadi Rp 2,65 triliun.

Peningkatan kinerja PTBA didukung oleh kenaikan harga batubara serta pelemahan nilai tukar rupiah yang memberikan dampak positif terhadap pendapatan perusahaan.

“Apabila biaya ini juga stabil, maka tingkat profitabilitas rata-rata diharapkan dapat relatif sejalan dengan pencapaian pada periode kuartal III-2026. Dari sisi operasional, cuaca menjadi faktor penting,” jelas Uni sebagaimana dikutip dari laporan kinerja perseroan.

Sementara itu, tim riset UBS Global memproyeksikan adanya potensi kenaikan harga batubara termal dalam beberapa bulan ke depan.

Faktor pendorong utamanya meliputi permintaan dari musim panas yang ekstrem serta potensi musim dingin yang lebih dingin akibat fenomena super El Niño.

Namun, kendala pasokan tetap menjadi risiko nyata bagi industri di Indonesia.

Pengetatan kuota produksi dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) serta penegakan aturan Domestic Market Obligation (DMO) sebesar 25% menjadi faktor pembatas ekspor.

Selain itu, hambatan logistik akibat rendahnya ketinggian air di Sungai Barito, Kalimantan Tengah, turut mengganggu proses pengangkutan batubara melalui tongkang.

Di sisi lain, Equity Research CGS International Sekuritas Indonesia memprediksi harga batubara Newcastle akan berada di level US$ 133 per ton pada tahun 2026.

Analis CGS International Sekuritas, Agung Putra Sulaiman, menyebutkan bahwa disiplin biaya akan menjadi kunci bagi emiten batubara untuk menjaga kinerja saat harga mulai melandai di tahun-tahun mendatang.

Rekomendasi

Tinggalkan komentar