Jakarta – Penjualan instrumen investasi syariah Sukuk Ritel seri SR025 menunjukkan performa stabil setelah memasuki pekan pertama masa penawaran sejak dirilis pada 21 Agustus 2026.
Data transaksi pada mitra distribusi Bareksa hingga Kamis (27/8/2026) menunjukkan penyerapan SR025-T3 telah mencapai 17,87 persen dari total kuota yang disediakan pemerintah sebesar Rp 15 triliun.
Sementara itu, seri SR025-T5 mencatatkan realisasi penjualan sebesar 14,22 persen dari kuota yang ditetapkan sebanyak Rp 5 triliun.
Chief Operating Officer Bareksa, Ni Putu Kurniasari, menilai laju realisasi penjualan instrumen ini masih berjalan sesuai dengan target yang ditetapkan pemerintah.
“Penjualan masih sesuai dengan target pemerintah, meskipun memang belum secepat ORI sebelumnya,” ujar Ni Putu sebagaimana dikutip dari keterangan resminya, Kamis (27/8/2026).
Ia menjelaskan bahwa selisih tingkat kupon SR025 yang berada di bawah Obligasi Negara Ritel (ORI) menjadi salah satu variabel yang mempengaruhi kecepatan minat beli masyarakat.
Kendati demikian, instrumen SR025 tetap memiliki daya tawar yang kuat di mata investor karena menawarkan kupon tertinggi untuk kategori Sukuk Ritel sejak tahun 2020.
Manajemen Bareksa memproyeksikan total penjualan SR025 secara nasional berpotensi menembus angka Rp 30 triliun hingga masa penawaran berakhir.
“Dari sisi kami, kami masih memperkirakan penjualan secara nasional dapat mencapai sekitar Rp30 triliun,” tambah Ni Putu.
Dalam pemaparannya, ia mengungkapkan bahwa investor ritel cenderung lebih meminati tenor SR025-T3 dibandingkan dengan seri SR025-T5.
Preferensi ini muncul karena karakteristik investor ritel yang dominan menggunakan Surat Berharga Negara (SBN) sebagai instrumen untuk tujuan investasi jangka menengah.
Optimisme pertumbuhan permintaan juga didorong oleh tren investasi berulang dari nasabah eksisting serta pertambahan jumlah nasabah baru di platform Bareksa.
Selain itu, terdapat potensi arus dana masuk dari investor pemegang Sukuk Ritel seri SR019 yang akan jatuh tempo pada 10 September 2026 mendatang.
Para investor tersebut diperkirakan akan melakukan reinvestasi ke instrumen SR025 untuk mendapatkan imbal hasil yang lebih kompetitif.
“Ketika investor melakukan reinvestasi ke SR025, mereka akan mendapatkan kupon yang lebih tinggi. Karena itu, kami masih optimistis dengan proyeksi penjualan nasional yang telah kami buat,” jelas Ni Putu.
Sebagai upaya untuk menggenjot volume transaksi, pihak Bareksa telah menyiapkan sejumlah insentif bagi para nasabah.
Salah satu stimulus yang diberikan adalah program cashback hingga mencapai Rp 45 juta bagi investor yang melakukan pembelian SR025 melalui platform tersebut.
Strategi ini diharapkan mampu menjaga momentum pertumbuhan penjualan di sisa masa penawaran yang masih berlangsung.
Kondisi pasar saat ini dipantau secara ketat untuk memastikan penyerapan kuota SBN tetap optimal di tengah dinamika ekonomi domestik.





















