Data Pekerja AS Lemah, Yield SUN 10 Tahun Proyeksi 7,10%-7,25%

Kholida Rahman

Data Pekerja AS Lemah, Yield SUN 10 Tahun Proyeksi 7,10%-7,25%

Jakarta – Pasar Surat Utang Negara (SUN) domestik diprediksi akan mengalami tren penguatan pada perdagangan Senin, 5 Oktober 2026.

Optimisme ini muncul menyusul rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang tercatat jauh di bawah ekspektasi pasar.

Data nonfarm payrolls AS untuk bulan September hanya mencatatkan penambahan sebanyak 29.000 tenaga kerja.

Angka tersebut jauh tertinggal dari proyeksi konsensus yang sebelumnya mematok angka di kisaran 90.000.

Bersamaan dengan itu, tingkat pengangguran di Negeri Paman Sam secara tak terduga naik 0,1 poin persentase menjadi 4,2 persen.

Pelemahan sektor tenaga kerja ini memberikan indikasi kuat mengenai perlambatan ekonomi di Amerika Serikat.

Dampaknya, kekhawatiran pelaku pasar mengenai potensi kenaikan suku bunga acuan oleh The Fed pada Oktober ini perlahan mereda.

Economist & Fixed Income Analyst MNC Sekuritas, Ridwan Adi Gunawan, menilai kondisi tersebut menjadi sentimen positif bagi imbal hasil obligasi domestik.

“Melambatnya data tenaga kerja tersebut meredakan kekhawatiran pelaku pasar terhadap potensi kenaikan suku bunga The Fed pada bulan Oktober,” ujar Ridwan dalam risetnya, Senin (5/10/2026).

Sentimen global ini turut memicu rebound pada bursa Wall Street pada penutupan akhir pekan lalu.

Indeks Nasdaq memimpin kenaikan pasar saham AS setelah laporan payrolls menurunkan ekspektasi pengetatan kebijakan moneter.

Di dalam negeri, minat beli yang berkelanjutan telah terlihat pada perdagangan akhir pekan lalu, khususnya pada instrumen front-end.

Tercatat, imbal hasil atau yield untuk tenor 1 hingga 4 tahun mengalami penurunan sebesar 2 hingga 5 basis poin.

Penurunan yield ini juga dipengaruhi oleh rilis data inflasi inti domestik yang cenderung lebih lunak.

Selain itu, fundamental ekonomi riil Indonesia memberikan dukungan tambahan bagi pasar obligasi.

Indeks Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia tercatat kembali berekspansi ke level 52,4 pada September 2026.

Angka ini merupakan peningkatan signifikan dari posisi 49,8 pada bulan sebelumnya dan menjadi perbaikan bisnis terkuat sejak Februari.

Melihat dinamika tersebut, Ridwan memproyeksikan pergerakan imbal hasil obligasi pemerintah akan merespons sentimen campuran namun cenderung positif.

“Mengingat perkembangan terkini di pasar global dan domestik, kami memperkirakan yield Indo-GB tenor 10 tahun akan diperdagangkan pada kisaran 7,10%-7,25% untuk hari ini,” jelasnya.

Investor disarankan untuk tetap memperhatikan seri-seri obligasi yang memiliki likuiditas tinggi di tengah fluktuasi pasar.

Beberapa seri Surat Berharga Negara (Indo-GB) yang direkomendasikan untuk diperdagangkan meliputi PBS030, FR0104, FR0110, FR00100, dan FR0106.

Aktivitas perdagangan sebelumnya menunjukkan dominasi pada seri FR0109 dengan nilai transaksi outright mencapai Rp7,08 triliun.

Selain itu, seri PBS003 dan PBS030 juga mencatatkan transaksi signifikan masing-masing sebesar Rp3,20 triliun dan Rp2,72 triliun.

Rekomendasi

Tinggalkan komentar