Jakarta – PT Harta Djaya Karya Tbk (MEJA) secara resmi telah menyelesaikan kewajiban utangnya kepada PT Bank Central Asia Tbk (BBCA).
Langkah strategis ini mencakup pelunasan fasilitas Kredit Modal Kerja (KMK) dan Kredit Rekening Koran (KRK).
Berdasarkan data keterbukaan informasi yang diterbitkan pada Senin, 5 Oktober 2026, perseroan telah menuntaskan pembayaran tersebut per tanggal 30 September 2026.
Corporate Secretary MEJA, Habibah Jannah, merinci bahwa total plafon kredit yang dilunasi mencapai Rp 3 miliar.
Fasilitas tersebut terdiri dari KMK dengan plafon sebesar Rp 2 miliar dan KRK dengan plafon Rp 1 miliar.
Menurut keterbukaan informasi perseroan, kebijakan ini diambil sebagai langkah pengelolaan struktur permodalan yang lebih berhati-hati atau prudent.
Perseroan berupaya menekan risiko yang berkaitan dengan pembayaran pokok, bunga, serta kebutuhan pendanaan kembali di masa depan.
Habibah Jannah menyatakan, langkah ini diambil untuk mengurangi beban kewajiban kredit perseroan secara signifikan.
“Pelunasan tersebut dilakukan dalam rangka pengelolaan struktur permodalan dan kewajiban keuangan secara lebih prudent, dengan mengurangi kewajiban kredit atas kedua fasilitas tersebut serta risiko yang terkait dengan pembayaran pokok, bunga, dan kebutuhan pendanaan kembali,” ujarnya dalam dokumen resmi tersebut.
Penyelesaian kewajiban ini diproyeksikan memberikan dampak positif bagi efisiensi biaya perusahaan.
Manajemen MEJA menilai bahwa berkurangnya beban bunga akan memberikan ruang napas bagi arus kas perusahaan di masa mendatang.
“Berkurangnya kewajiban pembayaran bunga ke depan atas saldo pinjaman tersebut juga mendukung efisiensi biaya pendanaan dan mengurangi tekanan pembayaran utang terhadap arus kas pada periode berikutnya,” jelasnya.
Selain itu, langkah ini merupakan cerminan dari komitmen perusahaan dalam menerapkan disiplin keuangan yang ketat kepada seluruh kreditur.
Dengan berkurangnya utang bank, perseroan kini memiliki fleksibilitas operasional yang lebih luas untuk mendukung pengembangan bisnis inti.
Saat ini, MEJA tengah berfokus pada perbaikan kinerja di sektor konstruksi dan desain interior.
“Pelunasan ini juga mendukung rencana perbaikan bisnis konstruksi dan desain interior MEJA yang berjalan dengan baik,” ungkap Habibah.
Pihak manajemen memastikan bahwa meski utang telah dilunasi, kondisi likuiditas dan kecukupan modal kerja perusahaan tetap terjaga dengan baik.
Efisiensi biaya pendanaan ini diharapkan mampu memberikan kontribusi positif terhadap kinerja keuangan perseroan pada semester II tahun 2026.
Langkah korporasi ini juga dipandang sebagai upaya untuk memperkuat kepercayaan investor terhadap kemampuan perusahaan dalam mengelola risiko keuangan jangka panjang.
Ke depan, perseroan berkomitmen untuk terus menjaga profil risiko agar tetap stabil di tengah tantangan industri konstruksi nasional.
Dengan berkurangnya risiko gagal bayar, MEJA kini dapat lebih leluasa mengalokasikan sumber daya untuk mempercepat pertumbuhan bisnis operasionalnya.
Manajemen optimis bahwa disiplin keuangan yang diterapkan saat ini akan menjadi fondasi kuat bagi pertumbuhan nilai perusahaan di masa depan.




















