Rupiah Melemah ke Rp 17.946 per Dolar AS Tertekan Sentimen Asia

persen

Rupiah Melemah ke Rp 17.946 per Dolar AS Tertekan Sentimen Asia

Jakarta – Nilai tukar rupiah di pasar spot mengalami tekanan signifikan pada perdagangan tengah hari ini, Senin (5/10/2026).

Mata uang Garuda tercatat melemah ke level Rp 17.946 per dolar Amerika Serikat (AS).

Posisi tersebut menunjukkan depresiasi sebesar 0,36% dibandingkan dengan penutupan perdagangan pada Jumat (2/10/2026) yang berada di angka Rp 17.882 per dolar AS.

Tren pelemahan rupiah ini selaras dengan kondisi mayoritas mata uang di kawasan Asia yang sedang berada dalam tekanan.

Berdasarkan data perdagangan hingga pukul 11.45 WIB, won Korea Selatan memimpin daftar pelemahan mata uang di Asia dengan koreksi mencapai 0,48%.

Baht Thailand mengikuti di posisi kedua dengan penurunan sebesar 0,36% terhadap dolar AS.

Tekanan juga dirasakan oleh dolar Singapura yang terkoreksi sebesar 0,31% di tengah sesi perdagangan hari ini.

Peso Filipina turut mengalami nasib serupa dengan mencatatkan pelemahan sebesar 0,3% terhadap mata uang Paman Sam tersebut.

Yen Jepang pun tidak luput dari tren negatif, di mana nilai tukarnya terpantau turun sebesar 0,16%.

Sementara itu, ringgit Malaysia mencatatkan pelemahan yang lebih moderat, yakni hanya turun tipis sebesar 0,07% terhadap the greenback.

Di sisi lain, tidak semua mata uang Asia tertekan oleh penguatan dolar AS pada hari ini.

Dolar Taiwan tercatat sebagai mata uang dengan kinerja paling positif di kawasan Asia setelah berhasil menguat sebesar 0,18%.

Rupee India juga menunjukkan pergerakan yang stabil dengan kenaikan tipis sebesar 0,05%.

Dolar Hong Kong turut berada di zona hijau, meskipun penguatannya sangat terbatas, yakni hanya sebesar 0,005%.

Kondisi pasar keuangan regional saat ini masih dipengaruhi oleh fluktuasi sentimen global yang berdampak langsung pada aset-aset berisiko di negara berkembang.

Para pelaku pasar terlihat lebih berhati-hati dalam menempatkan modal di tengah ketidakpastian ekonomi yang menekan mata uang Asia secara kolektif.

Volatilitas yang terjadi pada rupiah hari ini mencerminkan dinamika penawaran dan permintaan di pasar spot yang masih didominasi oleh sentimen penguatan dolar AS.

Ketergantungan mata uang Asia terhadap arah kebijakan moneter bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve, tetap menjadi faktor utama yang memengaruhi pergerakan pasar valuta asing.

Hingga penutupan sesi perdagangan sore nanti, pergerakan nilai tukar regional diprediksi masih akan dipantau ketat oleh para analis untuk melihat apakah tren pelemahan ini akan berlanjut atau terjadi konsolidasi.

Faktor eksternal seperti data inflasi global dan tensi geopolitik turut menjadi perhatian utama yang memicu pergeseran arus modal keluar dari pasar negara berkembang menuju aset safe haven.

Rekomendasi

Tinggalkan komentar