Jakarta – Holding Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Danantara Indonesia, saat ini tengah merampungkan proses konsolidasi dan audit untuk penyusunan laporan keuangan perdana mereka.
Hingga Sabtu, 1 Agustus 2026, laporan keuangan tersebut belum dipublikasikan secara resmi kepada publik.
Chief Operating Officer (COO) Danantara Indonesia, Dony Oskaria, menyatakan bahwa kompleksitas penyusunan laporan menjadi faktor utama di balik penundaan tersebut.
Dony menjelaskan bahwa ini merupakan kali pertama seluruh perusahaan pelat merah digabungkan ke dalam satu sistem laporan konsolidasi.
“Laporan keuangan Danantara itu kan hasil konsolidasi daripada BUMN dan ini adalah pertama kali BUMN melakukan laporan konsolidasi,” ujar Dony di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Jumat (31/7/2026), dikutip dari pernyataan resmi di lingkungan Istana Kepresidenan.
Ia menyebut bahwa tantangan terbesar dalam proses ini adalah melakukan eliminasi terhadap seluruh transaksi antarperusahaan.
Langkah ini krusial untuk dilakukan guna menghindari terjadinya pencatatan ganda dalam laporan keuangan gabungan.
Proses tersebut melibatkan ratusan hingga ribuan entitas bisnis yang saling memiliki transaksi satu sama lain.
Menurut Dony, besarnya skala entitas yang terlibat menyebabkan durasi pengerjaan memakan waktu yang cukup panjang.
Meski demikian, pihak manajemen memastikan bahwa seluruh tahapan penyusunan dilakukan dengan prinsip transparansi penuh.
Dony menegaskan bahwa tidak ada informasi keuangan yang sengaja ditutup-tutupi oleh pihak holding kepada publik.
“Prosesnya tentu membutuhkan waktu lama. Tetapi pada dasarnya kalau kita mau melihat tentu kita bisa melihat, kalau per individu tentu kita bisa melihat laporan masing-masing BUMN,” kata Dony.
Saat ini, laporan keuangan Danantara disebut sedang memasuki tahapan pra-audit.
Selain itu, perusahaan juga telah menggandeng konsultan keuangan profesional untuk membantu penyusunan struktur akun atau chart of accounts.
Penggunaan konsultan bertujuan agar laporan keuangan konsolidasi nantinya sesuai dengan standar akuntansi yang berlaku.
Dony menyatakan optimisme bahwa proses penyusunan laporan di masa depan akan berlangsung jauh lebih efisien.
Ia meyakini bahwa setelah pola konsolidasi dan mekanisme eliminasi transaksi antar-BUMN terbentuk, beban kerja akan berkurang secara signifikan.
“Ini tahun pertama kan, setelah ini tentu kalau kita sudah ketemu polanya. Makanya perlu disampaikan juga kepada publik bahwa kalau sudah ketemu polanya pas eliminasi dari seluruh perusahaan ini tahun berikutnya akan jauh-jauh lebih mudah,” ujar Dony menambahkan.
Penyusunan laporan ini menjadi indikator penting dalam integrasi manajemen BUMN di bawah naungan Danantara.
Pemerintah berharap proses ini dapat menciptakan tata kelola perusahaan yang lebih akuntabel dan terintegrasi di masa mendatang.






















